“Saya terkesan karena batik tidak hanya indah, tetapi juga menggambarkan budaya Indonesia. Setiap daerah punya pola yang berbeda dan Semarang memiliki motif khasnya sendiri,” ujarnya.
Fernandez mengatakan masyarakat Semarang sangat ramah dan mudah diajak berkomunikasi. Ia merasa terbantu selama mengikuti kegiatan di Indonesia. “Makanan di sini juga enak,” tambahnya sambil tersenyum.
Ia menjelaskan bahwa di Filipina memang tidak ada tradisi membatik, namun memiliki budaya menenun kain seperti Malong yang juga menampilkan pola khas tiap etnis. Menurutnya, kemiripan tersebut membuatnya semakin memahami nilai budaya dalam selembar kain.
Usai mengeksplorasi Kampung Batik, rombongan PASFA 2025 melanjutkan perjalanan ke beberapa destinasi budaya di Kota Semarang, seperti Kota Lama dan Kelenteng Sam Poo Kong. Rangkaian kunjungan ini diharapkan memperkaya wawasan para taruna mengenai sejarah, keberagaman, dan identitas budaya Indonesia. (*)
Editor: Elly Amaliyah





