Sekretaris Tim Satgas Percepatan MBG, Hanung Triyono, mengatakan menu MBG yang para siswa konsumsi pada hari itu yakni nasi kuning, telur dadar, tempe orek, dan abon. Ia menyebut penyedia MBG itu dari SPPG Grobogan Gubug Kwaron 1. Dari 803 orang yang terdampak, 54 orang di antaranya masih menjalani perawatan di rumah sakit.
“Dugaan sementara pada menu ayam. SPPG-nya dari SPPG Grobogan Gubug Kwaron 1. Statusnya sekarang berhenti operasional sementara. Jumlah penerima manfaat 2.904 orang,” ujar Hanung melalui WhatsApp, Selasa, 13 Januari 2025.
Pasca kejadian luar biasa (KLB) itu, kata Hanung, inspeksi kepatuhan terhadap SPPG sudah terlaksana. Adapun tim investigasi BGN, kepala regional, wakil kepala regional, dan koordinator wilayah melakukan inspeksi tersebut.
“SPPG yang terjadi KLB telah diberhentikan operasional sementara sampai dengan batas waktu yang belum ditentukan. Penerima manfaat telah dikunjungi dan dipastikan keadaannya oleh tim investigasi BGN. Segala bentuk pengobatan pasien akan ditanggung oleh BGN,” pungkas Hanung.
803 pelajar keracunan MBG, 115 orang rawat inap
Terpisah, Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan memperbarui data pelajar yang dugaan kuat keracunan MBG di Kecamatan Gubug. Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, Djatmiko, menyebut total ada 803 orang terdampak keracunan MBG per Selasa, 13 Januari 2025 pagi.
Djatmiko menuturkan, jumlah tersebut merupakan keseluruhan orang yang terdampak sejak awal laporan kasus ini. Saat ini, kata dia, sebagian besar sudah sembuh.
“Sudah sembuh, dari awal ya itu, jadi pengobatan di puskesmas, atau di tempat pondok, atau yang berobat di beberapa tempat itu kan jumlahnya 803 (orang) dan sudah dinyatakan membaik, sembuh, 688 [pelajar],” jelas Djatmiko.
BACA JUGA: 4 Skema MBG yang Saat Libur Sekolah Tetap Jalan: Siswa Bisa ke SPPG hingga Delivery ke Rumah
Djatmiko menyebut dari total keseluruhan orang yang dugaan kuat keracunan MBG tersebut, ada 115 orang yang menjalani rawat inap. Sebagian sudah sembuh dan dapat izin pulang.





