Dalam forum itu, Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru dan Pasifik Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Saribua Siahaan, menyebut pemerintah terus berupaya menciptakan iklim investasi yang memberikan kepastian dan kemudahan bagi pelaku usaha.
Pemerintah, kata Saribuan, berupaya menyiapkan regulasi dan ekosistem yang dapat menjawab kebutuhan investor. Termasuk dari sisi efisiensi dan kepastian dalam menjalankan usaha.
BACA JUGA: Indonesia Bidik Pusat AI Asia-Pasifik, Indosat Gandeng NVIDIA dan Nokia Bangun Zankore
Sementara itu, Plt Kepala DPMPTSP Jawa Tengah, Johan Hadiyanto, menilai masuknya investasi ke daerah tidak cukup hanya ԁilihat dari besaran nilai penanaman modal.
Menurutnya, investasi juga perlu memberikan dampak lanjutan terhadap perekonomian masyarakat. Misalnya seperti membuka lapangan kerja, menggerakkan aktivitas usaha, meningkatkan pendapatan dan memperkuat rantai pasok lokal.
Johan menuturkan, Jawa Tengah sendiri ԁisebut memiliki sejumlah modal pendukung untuk menarik investasi, mulai dari konektivitas Trans Jawa, pelabuhan dan bandara, kawasan industri hingga ketersediaan tenaga kerja produktif.
Arah investasi juga terus ԁidorong menuju sektor yang memiliki nilai tambah, seperti manufaktur maju, elektronik, otomotif dan komponen kendaraan listrik, semikonduktor, industri berorientasi ekspor hingga hilirisasi.
“Bagi kami, angka tersebut bukan sekadar capaian statistik. Di baliknya terdapat perluasan lapangan kerja, aktivitas usaha, pendapatan masyarakat, tumbuhnya UMKM, serta semakin kuatnya rantai pasok ekonomi daerah,” kata Johan dalam keterangan resminya, Rabu, 9 September 2026 lalu. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





