Jateng

Alih Fungsi hingga Abrasi Pesisir jadi Sorotan, Lahan Kritis di Jateng Turun 70 Ribu Hektare

×

Alih Fungsi hingga Abrasi Pesisir jadi Sorotan, Lahan Kritis di Jateng Turun 70 Ribu Hektare

Sebarkan artikel ini
Sampah MBG | dlhk jateng
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto, saat mengisi Forum Diskusi ISKA Jawa Tengah bertema “Bencana Ekologis, Tanggung Jawab Hukum, dan Pertobatan Ekologis: Mencari Jalan Pemulihan Lingkungan Hidup” di Rumah Uskup, Jalan Pandanaran, Kota Semarang, Rabu, 28 Januari 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

“Ada model giant sea wall hybrid, menggunakan struktur beton yang bisa menangkap sedimen, lalu di situ mangrove bisa tumbuh. Ini salah satu upaya yang bisa dilakukan,” katanya.

Widi menegaskan, rangkaian persoalan tersebut berkaitan erat dengan meningkatnya bencana hidrometeorologis yang terjadi di Jawa Tengah dalam beberapa waktu terakhir.

“Ini berkaitan dengan bencana hidrometeorologis akibat perubahan iklim yang baru saja kita alami di Jawa Tengah, di Purbalingga, di Tegal, dan di Pemalang. Ini tentu menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya.

DLHK Jateng Ungkap Lahan Kritis Jateng Turun 70 Ribu Hektare dalam Tiga Tahun

Dalam kesempatan yang sama, Widi memaparkan capaian pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan di Jawa Tengah, khususnya terkait luasan lahan kritis.

“Lahan kritis di Jawa Tengah tahun 2024 itu mencapai 317.629 hektare. Kalau dibandingkan dengan tahun 2021, saat itu lahan kritis mencapai 392.153 hektare,” jelasnya.

Dengan demikian, dalam kurun waktu tiga tahun terjadi penurunan lahan kritis sekitar 70 ribu hektare. Ia menilai penurunan tersebut tidak lepas dari berbagai upaya rehabilitasi dan penanaman yang dilakukan secara kolaboratif oleh berbagai pihak.

“Artinya sudah terjadi penurunan luasan lahan kritis dari tahun 2021 ke 2024 sekitar 70 ribu hektare. Upaya rehabilitasi dan penanaman yang teman-teman mahasiswa, masyarakat, perguruan tinggi, lakukan ini sudah membuahkan hasil,” ujarnya.

Widi juga menyinggung kegiatan penanaman yang dilakukan di kawasan Gunung Slamet bersama berbagai elemen, mulai dari komunitas, pemerintah daerah, hingga aparat keamanan.

“Di Gunung Slamet juga sudah terlaksana penanaman oleh komunitas bersama kami DLHK, dinas kehutanan, kabupaten, termasuk TNI dan Polri. Ini bentuk kolaborasi yang sangat baik,” katanya.

BACA JUGA: Sampah Perkotaan Overload, DLHK Jawa Tengah Bakal Bangun TPA Regional di Gandusari Magelang

Menurutnya, antusiasme relawan dan pemerhati lingkungan di Jawa Tengah saat ini semakin meningkat dan sangat membantu kerja pemerintah dalam pemulihan lingkungan.