Jateng

Banyuwangi Curi Start di Pulau Jawa, Jadi Pionir Pembangunan Lewat Formula Wisata

×

Banyuwangi Curi Start di Pulau Jawa, Jadi Pionir Pembangunan Lewat Formula Wisata

Sebarkan artikel ini
Media Gathering 2026 Regional Indonesia Timur
Asisten Administrasi Umum Kabupaten Banyuwangi Budi Santoso saat memaparkan materi sebagai keynote speaker di acara Media Gathering 2026 Regional Indonesia Timur, Subholding Upstream Pertamina. (Heri/beritajateng.tv)

“Mengingat kekayaan alamnya yang melimpah, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berkomitmen menjadikan pariwisata sebagai umbrella (payung) pembangunan daerah,” jelas Budi.

Menurutnya, Pariwisata ternilai sebagai investasi yang paling murah dan cepat untuk bisa langsung masyarakat nikmati.

Formula ini terbukti sukses. Ketika sektor pariwisata bergerak maju, sektor-sektor lain seperti pertanian, perikanan, hingga infrastruktur jalan ikut terdongkrak secara otomatis.

Bergeser ke Wisata Pengalaman (Experience)

Saat ini, tren pariwisata di Banyuwangi tidak hanya sekadar menjual pemandangan indah, tetapi sudah bergeser ke arah experience tourism (wisata pengalaman).

“Disini wisatawan kita ajak terlibat langsung dalam proses lokal, seperti menyangrai kopi sendiri”, Imbuhnya.

Banyuwangi juga kaya akan potensi komoditas. Mulai dari kopi kualitas tinggi yang dikembangkan secara presisi dari hulu ke hilir seperti di Sanggar Genjah Arum milik Pak Iwan. Hingga cokelat kualitas ekspor di Glenmore, serta rekayasa teknologi lampu di kebun buah naga komoditas Banyuwangi Selatan yang meningkatkan produktivitas secara drastis pada malam hari.

“Jadi ketika malam hari, dari atas terlihat banyak lampu, itu adalah kebun buah naga”, Ujarnya.

Kaya Event Budaya Nasional dan Internasional

Sektor budaya juga menjadi magnet utama. Dalam waktu dekat, tepatnya pada 18 Juli 2026, Banyuwangi akan menggelar Banyuwangi Ethno Carnival, sebuah ajang tahunan yang masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata.

Selain itu, ada pula Gandrung Sewu, sebuah pertunjukan kolosal yang melibatkan sekitar 1.500 penari Gandrung dari kalangan anak sekolah.

Event yang berlokasi di Pantai Boom ini bukan sekadar tontonan, melainkan panggung apresiasi nasional sekaligus penggerak ekonomi bagi para pelaku seni dan kostum lokal.

“Saat acara berlangsung, pastinya yang ikut mengantar anak-anak atau peserta penari bukan hanya ayah atau ibu, terkadang satu keluarga. Di situlah UMKM pasti habis terjual, baik makanan maupun minumannya. Artinya ekonomi berkembang,” jelas Budi.

BACA JUGA: 5 Fakta Menarik Wisata Kawah Ijen Banyuwangi, yang Terakhir Auto Merinding