SEMARANG, beritajateng.tv – Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Soegijapranata Catholic University (SCU) resmi menggelar premiere dan bedah karya film berjudul Uttarani: Sang Ratu dari Utara di Teater Fransiskus Asisi, Kampus 2 SCU BSB.
Film ini kolaborasi dosen dan mahasiswa Program Digital Performing Arts (DPA), Program Studi Sastra Inggris, FLA SCU bersama Rumah Khalwat Balai Budaya Rejosari (RKKBR). Karya ini terinspirasi dari sosok Ratu Kalinyamat, salah satu figur penting dari pesisir utara Jawa.
Sekilas tentang Film Uttarani: Sang Ratu dari Utara
Gerardus Majella Adhyanggono, SS., MA., Ph.D. selaku sutradara sekaligus penulis naskah menegaskan bahwa film ini tidak hanya menghadirkan Ratu Kalinyamat sebagai figur heroik, tetapi juga sebagai manusia, ibu, dan istri.
“Kami ingin menyoroti sisi kemanusiaan beliau. Misalnya, nilai kesetiaan, keberanian, pengorbanan, hingga pengendalian diri, yang relevan untuk diteladani generasi muda saat ini,” jelasnya.
BACA JUGA: Ajukan Akreditasi, Soegijapranata Catholic University Raih Predikat Unggul dari BAN-PT
Yosafat Yogi Tegar Nugroho, MA. selaku Project Manager menambahkan bahwa proses produksi film melibatkan mahasiswa sejak tahap pra-produksi, syuting, hingga pasca-produksi.
“Mahasiswa DPA berperan tidak hanya sebagai aktor, tetapi juga tim kamera, editing, hingga scoring musik. Semua elemen dikerjakan secara orisinal, sekaligus menjadi laboratorium nyata dari pembelajaran kelas,” ungkapnya.
Film berdurasi 35 menit ini menampilkan Archangela Averina Zora, mahasiswa Program DPA SCU, sebagai pemeran utama. Ia mengaku mendapat banyak inspirasi dari sosok Ratu Kalinyamat.
“Saya merasa nilai-nilai perjuangan beliau sangat relevan bagi generasi Gen Z. Proses syuting ini membuka mata saya bahwa sejarah itu cermin kehidupan yang bisa membentuk karakter,” ujarnya.
BACA JUGA: Heran Pemerintah Doyan Blokir Game, Pakar Unika: Cara Instan yang Tak Selesaikan Masalah
Sementara itu, Paulus Metta Dwi Manggala, MPd. yang bertindak sebagai editor menekankan bahwa film ini bukan sekadar karya akademik, melainkan upaya melahirkan standar baru dalam produksi film di lingkungan kampus.
“Kami berharap mahasiswa terbiasa menghadirkan karya dengan kualitas teknis yang proper, baik dari sisi visual maupun narasi,” tuturnya.
Produksi film ini memakan waktu hingga tiga tahun, meliputi riset sejarah, survei lokasi di Kudus, Jepara, dan sekitarnya, hingga proses shooting dan editing. Uniknya, film ini diproduksi secara mandiri tanpa sponsor eksternal, sehingga kebebasan artistik tim kreatif dapat terjaga.
Melalui Uttarani: Sang Ratu dari Utara, FBS SCU berharap dapat menghidupkan kembali spirit budaya lokal. Selain itu, pihak kampus bisa memberi ruang aktualisasi bagi mahasiswa untuk berkarya dalam medium film digital. (*)
Editor: Andi Naga Wulan.





