Politik

Bela Jokowi, Ahmad Ali Sindir Nenek-nenek Puluhan Tahun Pimpin Partai, Hersubeno: Bisa Jadi Bumerang untuk PSI

×

Bela Jokowi, Ahmad Ali Sindir Nenek-nenek Puluhan Tahun Pimpin Partai, Hersubeno: Bisa Jadi Bumerang untuk PSI

Sebarkan artikel ini
Megawati Prabowo | Ahmad Ali | PDIP Prabowo | PDIP Kebumen | HUT PDIP
Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan pidato pada puncak HUT ke-51 PDIP di Sekolah Partai PDIP, Jakarta Selatan, Rabu, 10 Januari 2024. (Foto: YouTube/PDI Perjuangan)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pernyataan Ketua Harian PSI, Ahmad Ali, pada Rakorwil PSI Riau beberapa waktu yang lalu menarik sorotan luas karena memunculkan polemik baru.

Pengamat politik Hersubeno Arief menyebut pernyataan Ahmad Ali tersebut menyinggung sosok senior petinggi partai di Indonesia yang tak tersentuh.

“Langsung sentuh figur senior yang selama ini jarang tersentuh,” ujarnya di kanal YouTube Hersubeno Point pada Minggu, 23 November 2025.

Kala itu, Ahmad Ali melontarkan kalimat yang memicu tafsir sensitif. “Sialnya Pak Jokowi ini gini, ya sudah waktunya istirahat. Loh, ada nenek-nenek yang puluhan tahun pimpin partai,” ucap Ali.

BACA JUGA: Ketum PBNU Tolak Ultimatum Mundur, Hersubeno Arief: Tak Sesuai Adab Santri kepada Kiai Sepuh

Frasa itu publik anggap sebagai sindiran terhadap Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri. “Nada bicaranya punya unsur merendahkan meski tanpa sebut nama,” ucap Hersubeno.

Selain itu, ucapan Ahmad Ali soal sosok “bapak yang aktif politik lebih dari dua puluh tahun” juga mengarah pada dugaan terhadap SBY.

Hersubeno menjelaskan bahwa publik langsung membaca arah sindiran tersebut. “Kalau bukan SBY, lalu siapa? Tidak mungkin frasa itu mengarah ke Jokowi,” tuturnya.

Ahmad Ali bawa-bawa isu ijazah Jokowi

Polemik bertambah besar karena Ahmad Ali membawa isu ijazah Jokowi. Hersubeno menilai langkah itu membuka ulang luka lama antara Jokowi, Megawati, dan SBY.

Ia mengingatkan bahwa isu tersebut sudah memicu ketegangan politik sejak klaim tentang “orang besar berbaju biru” muncul beberapa tahun lalu.

Sementara itu, Hersubeno juga mengulas hubungan Jokowi dan Megawati yang telah retak. “Tanpa dukungan Megawati, Jokowi tidak mungkin menembus politik nasional,” katanya

Ketegangan lama itu kini berlapis oleh kemunculan PSI sebagai rumah baru Jokowi setelah masa jabatannya berakhir.

Hubungan Jokowi dan SBY pun tidak jauh berbeda. Hersubeno mengingatkan bahwa Partai Demokrat pernah naik pitam akibat tuduhan yang dianggap fitnah keji.

BACA JUGA: KPU Surakarta Akui Musnahkan Arsip Pencalonan Jokowi, Hersubeno Arief: ‘Kotak Pandora’ Terbuka

“Pernyataan Ahmad Ali kali ini membawa kembali memori pahit bagi Demokrat,” ungkapnya.

Hersubeno pun menyorot gaya komunikasi Ahmad Ali yang ia sebut agresif dan tak menghindari benturan. Ia menilai gaya itu sudah tampak sejak Ahmad Ali berada dalam NasDem.

“Pola seperti itu bisa jadi bumerang untuk PSI karena posisi ketua harian adalah wajah terdepan partai,” tegasnya.

Menurut Hersubeno, PSI kini membangun identitas melalui konfrontasi untuk memperkuat posisi Jokowi pasca kekuasaan.

“Partai kecil tumbuh lewat polarisasi, bukan kompromi. Pola tersebut bisa melemahkan PSI jika terus menyentuh figur simbolik,” sebutnya.

Hersubeno lantas menutup analisanya dengan pesan keras. “Menyerang gagasan itu biasa, tapi menyerang figur simbolik selalu menghadirkan risiko besar dalam politik Indonesia,” tandasnya. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp