SEMARANG, beritajateng.tv – Meracik kopi bukanlah hal yang mudah. Sebab, menyajikan kopi, terutama untuk pelanggan bukan sekadar menguasai teknik belaka. Diperlukan khazanah yang luas soal dunia perkopian. Termasuk saat membuat racikan kopi V60.
Meskipun begitu, kecintaan terhadap kopi dan tekad yang kuat menjadi kunci utama untuk terjun ke usaha kedai kopi. Hal ini berhasil dibuktikan oleh owner Kaofee, Alice Lindsey Tan (39).
Tak seperti kedai kopi lain yang menawarkan banyak varian menu, Alice hanya berfokus pada beberapa teknik penyajian saja dengan menggunakan berbagai macam biji kopi. Salah satu yang menjadi favorit adalah kopi filter atau V60.
BACA JUGA: Pengusaha Semarang Sulap Toko Kaset Jadul jadi Kedai Kopi Ala 90-an, Hidupkan Kenangan Sang Ayah
“Orang paling seneng V60. Alasannya ya paling mudah menikmatinya karena rasa yang keluar sama,” ucap Alice saat kepada beritajateng.tv di Kaofee, Semarang, Sabtu 1 Juli 2023.
Uniknya, Alice memiliki cara tersendiri dalam menyuguhkan V60 kegemaran pelanggan. Ia tak hanya monoton menggunakan 1 jenis biji kopi saja.
“Saya cenderung ganti-ganti bean biar pengunjung nggak bosen. Misal kesini kemarin, dia coba mango roasted. Terus besoknya kesini pesen v60 lagi, saya kasih yellow cantura. Enaknya V60 gitu sih, kita bisa coba macem-macem,” ucap Alice.
“Mungkin analoginya kita ke toko buah terus pilih mangga, kan mangga macem-macem tuh, ada arum manis, ada mangga gadung,” imbuhnya.
Belajar bikin kopi di Dharma Boutique Roastery
Mungkin tak banyak yang menyangka bahwa Alice baru belajar meracik kopi pada penghujung tahun 2022. Pasalnya, kopi yang ia suguhkan terasa bak kopi buatan barista profesional. Terlebih, sosoknya dapat menyuguhkan secangkir kopi berdasarkan preferensi dan kesukaan pribadi pelanggannya.
Ia menyebut kehadiran Dharma Boutique Roastery sebagai roastery tertua di Kota Semarang berperan utama dalam profesinya saat ini sebagai penyeduh kopi. Menjalani magang sembari belajar di roastery tersebut mengasah kemampuannya untuk meracik secangkir kopi dari berbagai macam biji.
BACA JUGA: Sensasi Kopi Santen, Kuliner Khas Ndeso di Blora
Branding pun tak hanya ia lakukan hanya menjelang pembukaan kedai saja. Alice sudah melakukan soft selling sejak belajar kopi pada Desember 2022.
“Sebenernya di Instagram personal saya branding. Saya mulai cerita kalau saya belajar kopi. Story telling sembari info kalau nanti bakal ada kedai, mau buka kedainya,” ucap Alice.
Di kedai kopi miliknya, pengunjung dapat memilih berbagai macam biji kopi yang berasal dari seluruh Indonesia. Adapun jenisnya yaitu Bpiri Wamena asal Papua, Pantan Musara asal Sumatera, Sunda Gulali Honey, hingga Toraja Sapan asal Sulawesi.
Wine coffee hasilkan citarasa berbeda
Terlebih, pengunjung dapat memilih teknik kopi seperti french press, tubruk, hingga V60. Saat mengunjungi kedai, beritajateng.tv mencicipi segelas kopi susu dan kopi V60. Perpaduan creamy dari susu yang bertemu dengan kuatnya biji kopi menghasilkan rasa yang pas dan lezat.
Sementara itu, wine coffee yang ia proses menggunakan teknik V60 menghasilkan citarasa berbeda. Biji kopi fermentasi ini menghasilkan after taste hangat pada tubuh setelah diteguk.
BACA JUGA: Pengen Ngopi dengan Vibes Kereta Api? Kuy Nongki di Kedai Kopi Susu Bu Lurah!
Selain kopi, pengunjung juga dapat menikmati kudapan ringan seperti siomay, tahu petis, dan berbagai macam jajanan pasar lainnya.
Pengunjung cukup merogoh kocek mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 22 ribu untuk menikmati kopi di kedai nuansa ala 90-an tersebut. Selain itu, puluhan Compact Disc (CD) dan kaset pita band tahun 90-an yang terjejer rapi pada sudut kedai menjadi ajang nostalgia bagi setiap pelanggan yang datang.
Bagaimana, tertarik menikmati kopi dengan budget ramah di kantong sekaligus bernostalgia? (*)
Editor: Ricky Fitriyanto





