SEMARANG, beritajateng.tv – Hugo Hendarto sebenarnya menyukai desain sejak kecil. Namun, kecintaannya terhadap mesin juga tak bisa dikesampingkan begitu saja.
Ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S1 di Mekatronika Swiss German University (SGU), dan S2 di Mekatronika Universitas Diponegoro (Undip).
Selepas lulus, awalnya Hugo lebih sering berbisnis UPVC pada tahun 2010. Barulah pada tahun 2015, ia mendirikan bisnis bernama Vdoor, yang bergerak dalam vendor pintu besi.
Tak puas, Hugo kemudian merambah ke usaha pagar otomatis pada tahun 2017-2018. Alasannya, tren pagar otomatis saat itu belum ideal bagi negara Indonesia yang beriklim tropis.
Bisnis pagar otomatis khusus untuk Indonesia
Menurutnya, pagar otomatis import dari Italia kebanyakan kurang awet dan tidak cocok untuk iklim Indonesia. Dengan latar belakang pendidikannya, Hugo kantas mencoba mengembangkan mesin pagar otomatis yang cocok untuk iklim Indonesia.
“Merknya Otogate. Jadi udara lembab, kesamber petir, kejatuhan kabel PLN, digigit tikus, kemasukan cicak, itu aman,” katanya.
Selain part mesin yang cocok untuk iklim tropis, ia juga mengembangkan program pagar otomatis yang cocok untuk orang Indonesia. Misalnya, ketika anak Indonesia terbiasa bermain remot.
“Mungkin kalau mesin import sekali pencet langsung kebuka, kalau Otogate harus ditahan sekian detik baru kebuka,” jelas Hugo.
BACA JUGA: Seolah Tak Pernah Mati, Begini Geliat Toko Laptop dan Komputer di Plasa Simpang Lima Semarang
Setelah Vdoor dan Otogate, kini Hugo juga mencoba usaha di bidang serupa. Yaitu produsen pintu dan jendela dengan nama usaha Visterra.