“PangeranDiponegoro menunjukkan kepada kita bahwa sejarah bukan hanya tentang kemenangan. Tetapi tentang keberanian menjalani takdir, menjaga martabat, dan meninggalkan teladan bagi generasi mendatang,” katanya.
Buku “1830” menawarkan sembilan “pisau bedah” yang mengajak pembaca meninjau kembali warisan kolonial. Serta Dampaknya terhadap cara pandang bangsa Indonesia hingga kini.
Melalui refleksi sejarah tersebut, kata dia, masyarakat harapannya tidak sekadar mengingat simbol-simbol masa lalu. Tetapi juga mengolahnya sebagai pelajaran untuk menghadapi tantangan zaman, termasuk arus digitalisasi dan polarisasi opini di ruang publik. (*)
Editor: Elly Amaliyah





