“Yang paling penting sebenarnya laki-lakinya yang ԁiԁiԁik. Karena tekanan sosial, budaya, bahkan agama sering menempatkan perempuan di bawah laki-laki,” ujarnya.
Ia berharap tradisi sederhana seperti makan rujak pare sambal kecombrang tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga pengingat agar masyarakat lebih peka terhadap kekerasan di sekitar mereka.
“Peringatan ini baru bermakna kalau kita juga melawan kekerasan yang masih terjadi hari ini,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





