SEMARANG, beritajateng.tv – Hiruk pikuk aktivitas jual beli di lantai dua Pasar Johar Selatan, Kota Semarang, menyimpan cerita yang tak banyak masyarakat ketahui.
Di balik deretan lapak barang bekas, pakaian, hingga sepatu bermerek, para pedagang Pasar Maling yang sekarang jadi ‘New PM’ Johar ternyata masih mempertahankan sebuah tradisi yang turun-temurun ada, yakni bahasa rahasia untuk bertransaksi.
Bahasa tersebut bukan sekadar istilah dagang, melainkan kode komunikasi yang hanya sesama pedagang ketahui. Hingga kini, tradisi itu masih mengakar, saat mereka berdiskusi menentukan harga atau saling bertukar informasi tanpa calon pembeli tau.
Salah satu tokoh Pasar Maling ‘New PM’ Johar, Yuli Eko, mengatakan bahasa prokem itu sudah menjadi identitas para pedagang sejak puluhan tahun lalu. Ia sendiri telah berjualan di kawasan tersebut sejak 1981.
“Kadang-kadang kami memang kreatif. Ada bahasa sendiri yang hanya di pahami sesama pedagang,” ujar Eko di Pasar Johar Selatan.
Menurutnya, setiap kata memiliki arti tertentu yang berkaitan dengan nominal harga. Kode-kode tersebut mereka gunakan ketika pedagang ingin berdiskusi mengenai harga jual tanpa pembeli yang sedang menawar tau.
BACA JUGA: New PM Pasar Johar Resmi Dibuka, Disiapkan Jadi Magnet Belanja dan Wisata Baru Semarang
“Satu itu rojo, dua kirik. Itu bahasa prokem kami. Jadi kalau sedang tawar-menawar, pembeli tidak tahu maksud pembicaraan kami,” katanya.
Eko mencontohkan, saat seorang pembeli menawar celana seharga Rp45 ribu, pedagang bisa bertanya kepada rekannya menggunakan istilah yang sama sekali tidak di pahami orang lain.
“Kalau kita sebut gendero jaran kecil artinya Rp4.500. Kalau gendero jaran besar berarti Rp45 ribu. Hanya pedagang Pasar Maling yang paham bahasa itu,” ujarnya sambil tersenyum.
Tradisi tersebut tidak berhenti pada pedagang lama. Mereka yang baru membuka lapak pun secara perlahan belajar memahami bahasa rahasia tersebut agar bisa berbaur dengan komunitas pedagang.
“Pedagang baru juga belajar bahasa ini. Lama-lama mereka hafal sendiri,” tutur Eko.
Asal-usul Nama Pasar Maling Johar
Di balik bahasa unik itu, tersimpan pula kisah panjang mengenai asal-usul nama Pasar Maling yang hingga kini masih melekat di kawasan Pasar Johar.
Eko bercerita, pada era 1980-an banyak barang impor dari Singapura maupun negara lain yang masuk melalui pelabuhan dan kemudian berjualan di kawasan Johar dengan harga lebih murah daripada toko-toko pada masa itu.
“Kami dulu banyak menjual barang dari pelabuhan. Barang-barangnya bagus, bahkan banyak yang bermerek, tapi kami jual dengan harga lebih terjangkau,” katanya.
Seiring bertambahnya pedagang, aktivitas jual beli meluas hingga kawasan Kanjengan. Mereka berjualan pada malam hari dengan penerangan lampu petromax yang minim.
Suasana yang gelap tambah harga barang yang jauh lebih murah membuat masyarakat mulai berspekulasi bahwa barang tersebut merupakan hasil curian. Dari situlah sebutan “Pasar Maling” perlahan muncul dan terus masyarakat kenal hingga sekarang.
“Karena jualannya malam, pakai petromax, barangnya murah, orang kemudian menyebut seperti barang malingan. Padahal kami hanya mengambil untung sedikit,” jelas Eko.
Meski mengakui kemungkinan pernah ada segelintir barang hasil kejahatan yang masuk melalui pihak ketiga pada masa lalu. Eko menegaskan para pedagang tidak mengetahui asal-usul barang yang ia tawarkan kepada mereka.
“Kalau ada orang datang menjual barang bekas, kami juga tidak tahu itu asalnya dari mana. Kami membeli sesuai harga barang bekas saat itu,” katanya.
Cerita serupa Kepala Bidang Penataan dan Penetapan Dinas Perdagangan Kota Semarang, Bagas Yuwono Ario Negoro utarakan. Menurutnya, nama Pasar Maling lebih terkenal karena identik dengan barang bermerek dan barang bekas berkualitas yang mereka jual dengan harga murah.
BACA JUGA: Siap-siap! Pemkot Bakal Bangkitkan Lagi Pasar Maling di Johar Semarang
“Pasar Maling sejak dulu terkenal karena menjual barang branded maupun barang second dengan harga lebih murah. Itu yang kemudian membuat masyarakat mengenalnya dengan nama tersebut,” ujar Bagas.
Ia menambahkan, ada pula cerita lain yang berkembang di masyarakat. Karena lokasinya berdekatan dengan Masjid Agung Semarang, muncul guyonan bahwa sandal yang hilang di masjid akan ketemu lagi di Pasar Maling.
“Itu lebih kepada cerita yang berkembang di masyarakat. Sampai sekarang masih sering di ceritakan sebagai bagian dari sejarah Pasar Maling,” ucapnya.
Kini, di tengah menjamurnya pusat perbelanjaan modern dan perdagangan digital, Pasar Maling Johar tetap mempertahankan identitasnya.
Bukan hanya sebagai tempat berburu barang bekas berkualitas, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan tradisi unik berupa bahasa rahasia pedagang yang telah bertahan selama lebih dari empat dekade.
Bagi para pedagang, bahasa prokem bukan sekadar alat komunikasi, melainkan simbol solidaritas sekaligus warisan budaya pasar tradisional yang terus terjaga agar tidak hilang oleh zaman. (*)





