SEMARANG, beritajateng.tv – Tumpukan sampah rumah tangga yang selama ini di anggap tidak bernilai kini di dorong menjadi aset ekonomi. Di sisi lain, para ibu rumah tangga juga di persiapkan agar semakin melek keuangan, mampu mengelola aset, hingga membuka peluang usaha baru.
Gagasan itu menjadi inti kolaborasi PT Pegadaian (Persero) Kantor Wilayah XI Semarang dengan Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah. Melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU), kedua pihak sepakat membangun gerakan pemberdayaan perempuan yang menggabungkan literasi keuangan, penguatan ekonomi keluarga, dan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Kerja sama tersebut tidak hanya berhenti pada edukasi, tetapi di arahkan menjadi gerakan nyata yang menjangkau hingga tingkat desa melalui jaringan PKK.
Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil XI Semarang, M. Aries Aviani Nugroho, mengatakan perusahaan ingin memperluas perannya di tengah masyarakat. Menurutnya, Pegadaian tidak hanya hadir sebagai lembaga jasa keuangan, tetapi juga menjadi mitra dalam membangun ketahanan ekonomi keluarga.
“Sinergi ini merupakan langkah nyata PT Pegadaian untuk hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai lembaga keuangan, tetapi juga sebagai mitra pemberdayaan perempuan dan pelestarian lingkungan,” ujar Aries.
Ia menjelaskan, kerja sama tersebut mencakup empat program utama. Pertama, memperkuat literasi keuangan melalui edukasi pengelolaan keuangan keluarga, investasi, dan manajemen aset.
BACA JUGA: Mengetuk Pintu Langit, Cara Pegadaian Pati Menebar Harapan bagi Warga yang Membutuhkan
Program berikutnya adalah memperluas pemanfaatan produk serta layanan Pegadaian agar masyarakat memiliki alternatif investasi dan pembiayaan yang aman.
Selain itu, Pegadaian juga membuka peluang usaha melalui program Agen Pegadaian. Skema tersebut harapannya menjadi sumber pendapatan baru bagi anggota PKK sekaligus memperluas akses layanan keuangan hingga tingkat masyarakat.
Aspek yang paling menarik dalam kerja sama ini adalah pengelolaan sampah berbasis prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Melalui program tersebut, sampah dan limbah rumah tangga didorong memiliki nilai ekonomi, bahkan dapat di konversi menjadi tabungan emas.
Konsep itu mampu menjawab dua tantangan sekaligus, yakni mengurangi persoalan sampah sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menyebut kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis karena persoalan ekonomi keluarga dan lingkungan tidak dapat terpisahkan.
“Melalui kerja sama ini, kita tidak hanya fokus pada peningkatan kesejahteraan ekonomi keluarga. Tetapi juga mengambil peran aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan,” katanya.
Menurut Nawal, gerakan PKK membutuhkan dukungan berbagai pihak agar manfaatnya semakin luas. Kolaborasi dengan BUMN injy menjadi bentuk gotong royong modern yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kami menyadari gerakan PKK tidak dapat berjalan sendiri. Sinergi antara PKK sebagai penggerak komunitas akar rumput dan PT Pegadaian sebagai BUMN yang peduli pada keberlanjutan merupakan bentuk nyata gotong royong modern,” ujarnya.
Kekuatan utama program ini terletak pada jaringan PKK yang telah menjangkau hingga kelompok dasawisma. Dengan struktur tersebut, edukasi pengelolaan keuangan, investasi, kewirausahaan, hingga pengelolaan sampah dapat berjalan secara masif dan berkelanjutan.
Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong perempuan sebagai motor penggerak ekonomi keluarga. Tidak hanya berperan mengatur keuangan rumah tangga, perempuan di dorong mampu menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus menjadi agen perubahan dalam menjaga lingkungan. (*)





