SEMARANG, beritajateng.tv – Pengembangan bus listrik sebagai transportasi ramah lingkungan ternilai tidak boleh hanya berfokus pada upaya menekan emisi karbon. Pemerintah juga didorong menyiapkan sistem pengelolaan limbah baterai agar program elektrifikasi transportasi tidak memunculkan persoalan lingkungan baru di masa mendatang.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Hijau Indonesia (PHI) Jawa Tengah, Robertus Aditya, menilai keberhasilan implementasi bus listrik harus lihat secara menyeluruh. Mulai dari pengurangan polusi udara hingga kesiapan menangani baterai yang telah habis masa pakainya.
“Kita jangan sampai menyelesaikan satu persoalan tentang polusi udara, tetapi kemudian memunculkan persoalan baru berupa limbah baterai,” kata Aditya pada Sabtu, 18 Juli 2026.
Menurutnya, baterai kendaraan listrik memiliki umur pakai terbatas sehingga pada waktunya harus diganti. Kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak sekarang dengan membangun sistem pengelolaan limbah yang terintegrasi, mulai dari tempat penyimpanan sementara hingga proses daur ulang yang memenuhi standar keamanan lingkungan.
BACA JUGA: Dinas Perhubungan Bersihkan Rambu Lalu Lintas di 800 Titik Kota Semarang
Ia meminta pemerintah daerah bersama Dinas Lingkungan Hidup memastikan baterai bekas kendaraan listrik tidak berakhir sebagai sampah biasa. Sebab, baterai mengandung material yang berpotensi mencemari tanah maupun lingkungan apabila pembuangan tanpa penanganan yang tepat.
Selain persoalan limbah, Aditya mengingatkan penggunaan kendaraan listrik juga akan meningkatkan kebutuhan energi. Karena itu, penyediaan sumber listrik yang berasal dari energi bersih perlu menjadi bagian dari kebijakan elektrifikasi transportasi.
“Kita harus memikirkan sumber energi yang berkelanjutan. Jangan hanya mengganti kendaraannya, tetapi sumber energinya juga perlu jadi perhatian,” ujarnya.
Ia menilai pemanfaatan energi terbarukan, seperti tenaga surya, dapat menjadi salah satu solusi untuk mendukung kebutuhan pengisian daya kendaraan listrik sekaligus memperkuat manfaat lingkungan dari program tersebut.
Menurut Aditya, pengembangan bus listrik di berbagai daerah, termasuk Kota Semarang, semestinya menerapkan pendekatan yang memperhatikan seluruh siklus lingkungan. Tidak hanya saat kendaraan beroperasi, tetapi juga ketika baterai memasuki akhir masa pakainya.
“Bus listrik memang dapat menurunkan polusi udara, tetapi pengelolaan limbah baterai harus menjadi perhatian serius agar tidak menimbulkan dampak lingkungan baru di masa depan,” tegasnya.
Dengan demikian, elektrifikasi transportasi tidak hanya menjadi solusi jangka pendek dalam menekan emisi, tetapi juga mampu menciptakan sistem transportasi yang benar-benar berkelanjutan melalui pengelolaan limbah dan pemanfaatan energi ramah lingkungan.
Dinas Perhubungan Kaji Penggunaan Bus Listrik untuk Trans Jateng
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah mulai mengkaji penggunaan armada bus listrik untuk layanan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng.
Penggunaan kendaraan listrik tersebut masuk dalam rencana jangka panjang pengembangan transportasi massal di Jawa Tengah, termasuk untuk koridor baru maupun peremajaan armada lama.
Kepala Dinas Perhubungan Jawa Tengah Arief Djatmiko menilai kendaraan listrik memiliki sejumlah keunggulan daripada armada konvensional berbahan bakar minyak.
“Secara prinsip kendaraan listrik itu memiliki beberapa keunggulan, termasuk di antaranya pengurangan polusi, kemudian juga pengurangan penggunaan bahan bakar. Ini kan sedang ramai ya kondisi terkait penggunaan bahan bakar sehingga jumlah rupiahnya naik,” ujar Arief Djatmiko.
Dalam proses kajian tersebut, Dinas Perhubungan Jawa Tengah juga mulai melakukan konsolidasi dengan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk terkait spesifikasi armada listrik yang memungkinkan untuk layanan Trans Jateng.
BACA JUGA: 61 Bus Baru Trans Semarang Sudah Mengaspal, Bus Listrik Beroperasi Agustus 2026
Namun demikian, Miko menegaskan hingga kini belum ada keputusan resmi terkait kerja sama maupun penggunaan merek armada tertentu.
Selain armada, Dinas Perhubungan Jawa Tengah juga masih menghitung kebutuhan infrastruktur pendukung kendaraan listrik. Seperti SPKLU maupun skema pengadaan fasilitas pengisian daya.
Dinas Perhubungan Jateng juga mulai mempelajari implementasi bus listrik yang saat ini sudah berjalan di Kota Semarang. Hal itu sebagai bahan evaluasi awal sebelum diterapkan pada layanan Trans Jateng. (*)
Editor: Farah Nazila





