Gaya Hidup

Cerita Nadya Arina Perankan Pramugari di Film Penerbangan Terakhir

×

Cerita Nadya Arina Perankan Pramugari di Film Penerbangan Terakhir

Sebarkan artikel ini
Cerita Nadya Arina Perankan Pramugari di Film Penerbangan Terakhir
Pemeran Tiara di Film Penerbangan Terakhir, Nadya Arina hadir pada promo film di XXI DP Mall Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

“Karakter ini menarik sekali karena tidak semua aktor punya kesempatan memerankan pramugari. Film Indonesia yang mengangkat aviasi juga tidak banyak. Apalagi ini di produksi VMS dan di sutradarai Benni Setiawan, yang karya-karyanya selalu kuat,” ujarnya.

Proses produksi Penerbangan Terakhir di sebut memberikan pengalaman autentik bagi seluruh pemain. Nadya mengungkapkan bahwa sebagian besar adegan berlangsung di lokasi nyata, termasuk di pesawat dan kawasan Bandara Soekarno-Hatta.

Cerita Nadya Arina

“Kami syuting di set pesawat sungguhan dan juga di bandara. Rasanya seru sekali, benar-benar seperti masuk ke dunia penerbangan. Kami juga menjalani workshop langsung dengan pramugari asli,” jelasnya.

Workshop tersebut menjadi bagian penting dalam pendalaman karakter. Nadya bersama Jerome Kurnia dan Aghniny Haque mendapatkan pendampingan intensif agar akting sebagai awak kabin terlihat meyakinkan.

“Semua adegan kami sebagai pramugari disupervisi pramugari asli. Jadi gerak, sikap, sampai cara berbicara benar-benar diperhatikan,” katanya.

Syuting film ini berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu di Jakarta. Meski singkat, Nadya mengakui tantangan emosional dalam memerankan Tiara cukup berat.

“Tantangan terbesarnya menjaga eskalasi emosi. Dari jatuh cinta, masuk ke hubungan yang toxic, sampai akhirnya Tiara terpuruk dan harus menyadari semua itu. Banyak adegan emosi yang mirip, jadi aku harus mencari cara agar setiap scene terasa berbeda,” ungkap Nadya.

Lebih dari sekadar drama cinta, Nadya berharap Penerbangan Terakhir dapat menyampaikan pesan reflektif kepada penonton.

“Film ini mengajak penonton memahami bahwa setiap karakter adalah manusia yang bisa salah. Kita mungkin terlihat jahat di mata orang lain, tapi itu bagian dari pengalaman hidup,” ujarnya.

Ia juga berharap film ini dapat meningkatkan kesadaran tentang hubungan yang manipulatif dan pentingnya dukungan sosial.

“Aku berharap film ini bisa meningkatkan awareness, terutama soal hubungan yang manipulatif. Bagaimana kita bisa menyadari kondisi itu dan menjadi support system bagi orang-orang di sekitar kita,” pungkas Nadya. (*)

Editor: Elly Amaliyah