Gaya Hidup

Cerita Nadya Arina Perankan Pramugari di Film Penerbangan Terakhir

×

Cerita Nadya Arina Perankan Pramugari di Film Penerbangan Terakhir

Sebarkan artikel ini
Cerita Nadya Arina Perankan Pramugari di Film Penerbangan Terakhir
Pemeran Tiara di Film Penerbangan Terakhir, Nadya Arina hadir pada promo film di XXI DP Mall Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Film Penerbangan Terakhir menjadi salah satu tontonan paling menyita perhatian pada 2026. Film produksi VMS Studio ini mengangkat sisi gelap dunia penerbangan yang jarang tersentuh layar lebar, dengan balutan drama cinta, manipulasi, dan skandal panas antara pilot dan pramugari.

Jerome Kurnia tampil sebagai Kapten Deva, seorang pilot kharismatik yang terjebak dalam pusaran hubungan rumit dengan dua pramugari. Nadya Arina memerankan Tiara sedangkan Aghnint Haque memerankan tokoh Nadia.

Cerita bermula dari hubungan manis Kapten Deva dan Tiara, pramugari baru yang masih polos dan memandang dunia penerbangan sebagai ruang penuh impian.

Namun, seiring kedekatan mereka, Tiara mulai merasakan sisi lain dari Kapten Deva. Sikap manipulatif dan kebohongan perlahan muncul, membuatnya sulit membedakan ketulusan dan tipu daya.

BACA JUGA: Akhirnya Tayang! Ini 5 Fakta Di Balik Horornya Film Final Destination: Bloodlines 

Situasi semakin rumit ketika Nadia, pramugari senior yang ternyata memiliki hubungan lebih dulu dengan Kapten Deva, kembali hadir dan mengguncang hubungan yang sudah rapuh.

Diproduseri Tony Ramesh dan Shalu T.M., serta disutradarai Benni Setiawan, Penerbangan Terakhir menjanjikan cerita emosional dengan latar dunia aviasi yang realistis.

Selain Jerome, Nadya, dan Aghniny, film ini juga menghadirkan Nasya Marcella serta Vintha Devina Bertha dalam kisahnya.

Pemeran Tiara, Nadya Arina, hadir langsung dalam rangka promosi film di XXI DP Mall Semarang, Minggu, 18 Januari 2026. Ia mengungkapkan bahwa karakter Tiara menjadi pengalaman baru yang menantang baginya.

“Aku memerankan Tiara, seorang pramugari baru. Dunia penerbangan dan percintaan sama-sama baru untuk dia. Saat bertemu Kapten Deva, Tiara mulai menghadapi masalah-masalah yang awalnya terlihat kecil, tapi kemudian membesar dan mengubah hidupnya,” kata Nadya.

Menurut Nadya, kesempatan memerankan pramugari menjadi pengalaman langka bagi seorang aktris. Ia menilai film yang mengangkat dunia aviasi masih jarang diproduksi di Indonesia.

“Karakter ini menarik sekali karena tidak semua aktor punya kesempatan memerankan pramugari. Film Indonesia yang mengangkat aviasi juga tidak banyak. Apalagi ini di produksi VMS dan di sutradarai Benni Setiawan, yang karya-karyanya selalu kuat,” ujarnya.

Proses produksi Penerbangan Terakhir di sebut memberikan pengalaman autentik bagi seluruh pemain. Nadya mengungkapkan bahwa sebagian besar adegan berlangsung di lokasi nyata, termasuk di pesawat dan kawasan Bandara Soekarno-Hatta.

Cerita Nadya Arina

“Kami syuting di set pesawat sungguhan dan juga di bandara. Rasanya seru sekali, benar-benar seperti masuk ke dunia penerbangan. Kami juga menjalani workshop langsung dengan pramugari asli,” jelasnya.

Workshop tersebut menjadi bagian penting dalam pendalaman karakter. Nadya bersama Jerome Kurnia dan Aghniny Haque mendapatkan pendampingan intensif agar akting sebagai awak kabin terlihat meyakinkan.

“Semua adegan kami sebagai pramugari disupervisi pramugari asli. Jadi gerak, sikap, sampai cara berbicara benar-benar diperhatikan,” katanya.

Syuting film ini berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu di Jakarta. Meski singkat, Nadya mengakui tantangan emosional dalam memerankan Tiara cukup berat.

“Tantangan terbesarnya menjaga eskalasi emosi. Dari jatuh cinta, masuk ke hubungan yang toxic, sampai akhirnya Tiara terpuruk dan harus menyadari semua itu. Banyak adegan emosi yang mirip, jadi aku harus mencari cara agar setiap scene terasa berbeda,” ungkap Nadya.

Lebih dari sekadar drama cinta, Nadya berharap Penerbangan Terakhir dapat menyampaikan pesan reflektif kepada penonton.

“Film ini mengajak penonton memahami bahwa setiap karakter adalah manusia yang bisa salah. Kita mungkin terlihat jahat di mata orang lain, tapi itu bagian dari pengalaman hidup,” ujarnya.

Ia juga berharap film ini dapat meningkatkan kesadaran tentang hubungan yang manipulatif dan pentingnya dukungan sosial.

“Aku berharap film ini bisa meningkatkan awareness, terutama soal hubungan yang manipulatif. Bagaimana kita bisa menyadari kondisi itu dan menjadi support system bagi orang-orang di sekitar kita,” pungkas Nadya. (*)

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp