SEMARANG, beritajateng.tv – Setiap tahun, Bumi mengalami dua titik penting dalam orbit elipsnya mengelilingi Matahari yakni fenomena perihelion dan aphelion. Jika pada perihelion Bumi berada di titik terdekatnya dengan Matahari, maka aphelion adalah kondisi sebaliknya, yakni ketika Bumi berada di titik terjauh dari sang surya.
Pada tahun 2025 ini, fenomena aphelion terjadi pada tanggal 5 Juli pukul 00.06 WIB. Momen ini menjadi perhatian para astronom dan masyarakat umum karena sering kali berkaitan dengan perubahan suhu dan cuaca.
Namun, apakah aphelion benar-benar membuat cuaca terasa lebih dingin bulan Juli ini? Jawabannya tidak sesederhana itu.
BACA JUGA: Jangan Lewatkan! Deretan Fenomena Langit Juni 2025, Ada Strawberry Moon, hingga Konjungsi Bulan
Benarkah Fenomena Aphelion Membuat Suhu Dingin Ekstrem?
Jarak Bumi dan Matahari saat aphelion sekitar 152 juta kilometer, lebih jauh sekitar 5 juta kilometer daripada perihelion. Meski begitu, perubahan suhu di Bumi tidak secara signifikan dipengaruhi oleh jarak ini, melainkan oleh kemiringan sumbu Bumi yang menciptakan musim.
Lalu mengapa masyarakat merasa cuaca lebih dingin? Hal ini lebih disebabkan oleh posisi matahari di belahan Bumi selatan, termasuk Indonesia, yang sedang mengalami musim kemarau.
Cuaca cerah, rendahnya kelembaban, serta angin yang bertiup dari Australia menyebabkan suhu udara terasa lebih sejuk, terutama pada pagi dan malam hari.
BACA JUGA: Law of Attraction di Kalangan Gen Z, Bukti Nyata Fenomena Logika Mistika
Dampak Fenomena Aphelion
Fenomena aphelion sebenarnya merupakan peristiwa alamiah yang tidak perlu dikhawatirkan. Tidak ada dampak ekstrem seperti gempa bumi, badai, atau perubahan drastis dalam iklim akibat peristiwa ini.
Meski demikian, masyarakat tetap perlu menjaga kesehatan, terutama di musim kemarau seperti sekarang. Konsumsi air yang cukup, menggunakan pelembab kulit, dan menjaga kualitas udara di rumah menjadi langkah preventif yang penting.
Melalui fenomena aphelion, kita bisa lebih memahami dinamika tata surya dan bagaimana gerak Bumi dalam orbitnya bisa berdampak kecil namun tetap menarik untuk diamati. Momen ini juga bisa menjadi edukasi publik tentang pentingnya literasi astronomi dan menjaga bumi yang terus berputar dalam kesetimbangan sempurna. (*).





