Nasional

Dampak Perang AS-Israel vs Iran, Harga Minyak hingga Tiket Pesawat Berpotensi Naik

×

Dampak Perang AS-Israel vs Iran, Harga Minyak hingga Tiket Pesawat Berpotensi Naik

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi pertubuhan ekonomi. (Pexels/Pixabay)
Ilustrasi pertubuhan ekonomi. (Pexels/Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Eskalasi perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Pengamat ekonomi Universitas Diponegoro (Undip), Esther Sri Astuti, menilai konflik di kawasan Timur Tengah tersebut bisa memicu kenaikan harga minyak dan berbagai komoditas strategis.

“Dampaknya dari sisi ekonomi bisa jadi kenaikan harga minyak dan beberapa komoditas lainnya,” ujar Esther saat beritajateng.tv hubungi pada Senin, 2 Maret 2026.

Menurut dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip itu, salah satu faktor utama pemicu kenaikan harga adalah terganggunya jalur logistik dan transportasi internasional.

Ia menjelaskan, kapal-kapal pengangkut minyak dan komoditas harus mencari rute yang lebih aman untuk menghindari wilayah konflik. Namun, jalur alternatif tersebut umumnya lebih panjang dan membutuhkan biaya operasional lebih besar.

“Logistik dan transportasi harus cari rute jalur yang aman meski jalurnya lebih panjang, jadi lebih mahal,” jelasnya.

BACA JUGA: Perang AS-Iran Memanas, Biro Umroh: Garuda dan Lion Air Masih Layani Penerbangan Jeddah-Indonesia

Tak hanya soal jarak, aspek keamanan juga menjadi pertimbangan utama. Dalam situasi konflik, risiko serangan terhadap kapal pengangkut minyak dan barang meningkat. Kondisi ini membuat jumlah kapal yang beroperasi cenderung berkurang.

“Keamanan angkutan minyak dan komoditas lainnya juga kurang. Maka kapal yang berangkat pun juga lebih sedikit, biasanya biayanya lebih mahal,” tambah Esther.

Tekanan terhadap APBN dan Harga BBM

Kenaikan harga minyak dunia berimbas langsung pada anggaran negara. Esther menilai, jika harga minyak global melonjak, pemerintah perlu merevisi asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Akibatnya di Indonesia akan terjadi kenaikan anggaran di APBN karena jika harga minyak naik maka asumsi harga minyak di APBN perlu direvisi,” tegasnya.

Situasi ini menjadi perhatian karena belum lama ini harga BBM di dalam negeri mengalami penyesuaian. Perihal potensi kenaikan lanjutan bahkan kelangkaan bahan bakar, Esther menyebut Indonesia masih memiliki opsi alternatif pasokan.

“Indonesia mungkin akan beli minyak dari US, kan sudah ada perjanjian ART antara US dan Indonesia,” ungkapnya.

Langkah diversifikasi sumber impor tersebut dinilai bisa menjadi strategi untuk menjaga ketersediaan energi di dalam negeri, meski harga tetap sangat dipengaruhi dinamika global.

Tiket Pesawat Berpotensi Ikut Naik

Selain sektor energi, industri penerbangan juga terancam terdampak. Esther menyebut maskapai kemungkinan harus mengubah rute penerbangan untuk menghindari wilayah konflik udara yang tidak aman.

“Potensi kenaikan harga penerbangan juga bisa terjadi karena penerbangan tidak aman dan harus muter,” katanya.

Perubahan rute ini membuat waktu tempuh lebih lama dan konsumsi bahan bakar meningkat, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga tiket pesawat.

Mirip Dampak Perang Rusia-Ukraina

Esther menilai pola dampak ekonomi dari perang AS-Israel versus Iran ini kurang lebih serupa dengan konflik Rusia-Ukraina yang sebelumnya mengguncang pasar energi dan pangan dunia.

“Ini kurang lebih dampaknya sama dengan perang Rusia dan Ukraina,” ujarnya.

BACA JUGA: Ayatollah Alireza Arafi Pengganti Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, Berikut Profilnya

Dengan kondisi geopolitik yang belum stabil, Esther mengingatkan pentingnya kewaspadaan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi, terutama mengendalikan inflasi dan memastikan pasokan energi tetap aman.

Menurutnya, situasi global yang memanas membuat Indonesia perlu menyiapkan langkah antisipatif agar tekanan terhadap harga energi, komoditas, hingga biaya transportasi tidak semakin membebani masyarakat dan fiskal negara.

“Kemungkinan terjadinya seperti ini akibat perang US-Israel vs Iran,” pungkasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp