SALATIGA, beritajateng.tv – Wajah-wajah sukacita terpancar dari 18 mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) asal Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan.
Mereka telah menuntaskan studi di berbagai fakultas di UKSW dan mengikuti wisuda kelulusan, yang berlangsung di Balairung UKSW, Kota Salatiga, Kamis, 29 Januari 2026 siang.
Yang lebih istimewa, Bupati Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana hadir langsung di tengah kegembiraan para mahasiswa dan orang tua masing-masing di Kota Salatiga.
“Ini sejarah bagi kami, dari Pegunungan Bintang bisa menuntaskan studi dan lulus di UKSW ini,” ungkap Tokon Urapmabin, salah satu wisudawan asal Kabupaten Pegunungan Bintang.
Semua ini, jelasnya, berkat beasiswa yang Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pegunungan Bintang berikan. Sehingga para pemuda Pegunungan Bintang bisa menempuh kuliah di UKSW.
“Kami semua, berterimakasih kepada Bupati Spei Yan Bidana, karena program beasiswa beliau saya dan teman- teman bisa bersekolah di UKSW,” tegasnya.
BACA JUGA: Talkshow di UKSW, Gibran Soroti Pendidikan, Kesehatan, dan Trans Papua
Sebagai mahasiswa UKSW, Tokon juga telah menorehkan sejumlah prestasi di level internasional. Karena pernah mengikuti pertukaran pelajar internasional.
Yakni dalam ajang Summer Immersion Program di Shonan Fujisawa Campus (SFC), Keio University, Jepang dan Summer School di Asia University, Taiwan pada Agustus 2023.
Tokon mengatakan, karena ada jaminan beasiswa dari Pemkab Peguningan Bintang, tersebut ia bisa fokus belajar dan menyelesaikan studi di FIK UKSW.
“Bantuan finansial dari Bupati sangat luar biasa, saya akan membalasnya dengan mengabdikan diri untuk membangun Kabupaten Pegunungan Bintang,” lanjutnya.
Terpisah, Bupati Pegunungan Bintang Spei Yan Bidana mengatakan, pengiriman mahasiswa untuk belajar ke UKSW telah mulai sejak ia menjabat bupati pada periode pertama.
Sementara pada periode kedua menjabat, dikirim 218 pemuda pemudi Kabupaten Pegunungan Bintang mahasiswa untuk belajar di UKSW.
Menurutnya ini adalah hal yang luar biasa, karena terlaksana secara mendadak dan tidak melalui seleksi. Karena saat itu yang dipikirkan hanya percepatan pembangunan SDM untuk mengubah Pegunungan Bintang.
“Kita bangun semua Pegunungan Bintang, tapi yang utama adalah sumber daya manusia, mereka harus sekolah sampai S3 sehingga 30 tahun kedepan,” tegas Spei Yan Bidana.
Bupati juga menyampaikan, kekayaan alam yang dimiliki bisa menjadi kutukan kalau tidak memiliki sumber daya manusia yang berkualitas. Sehingga kekayaan alam bisa habis.
“Inilah yang memotivasi kami untuk mencetak generasi yang menguasai sains dan teknologi bagi kemajuab Kabupaten Peginungan Bintang ke depan,” ungkapnya.
BACA JUGA: Beri Benefit Calon Mahasiswa Baru, UKSW Salatiga Hadirkan Program Daftar Cepat
Spei Yan Bidana mengatakan, target selanjutnya adalah mengirim untuk mengikuti sekolah kedinasan di seluruh departemen agar memiliki akses di seluruh Indonesia.
Kemudian, berlanjut dengan pembangunan universitas. “Karena itu, mereka yang hari ini berprestasi akan direkomendasikan untuk menjadi calon dosen di universitas tersebut,” tandasnya.
Di lain pihak? Bupati Spei Yan Bidana juga menyoroti minimnya akses ke Pegunungan Bintang. Padahal Pegunungan Bintang merupakan beranda negara karena berbatasan dengan Papua Nugini.
Mala pemerontah daerah Pegunungan Bintang juga melakukan diplomasi internasional kebudayaan dan pendidikan demi pembangunan di daerahnya.
Sementara itu Staf Ahli Bupati Pegunungan Bintang, Prof Yohannes Sardjono dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengatakan, pembangunan SDM di Pegunungan Bintang menjadi yang utama.
Karena Pegunungan Bintang tidak memiliki akses darat, baik dari Merauke maupun Jayapura. “Maka Pemerintah pusat harus membangun akses ini demi kemajuan daerah,” jelasnya.
Selain itu juga ada sejumlah tantangan pembangunan di Pegunungan Bintang. Yakni ketiadaan akses IT. Sehingga masyarakat sulit mengikuti perkembangan zaman.
Oleh karena itu ia juga meminta agar Starlink diperbanyak. “Selanjutnya juga ketersedian listrik, yang saat ini hanya menyala enam jam per hari,” tandasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





