SEMARANG, beritajateng.tv – Pertunjukan Wayang on the Street di Kota Lama Semarang bukan hanya menjadi ajang pelestarian seni tradisi, tetapi juga panggung pembuktian bagi para aktor muda. Salah satunya adalah Bingar Agil Widyasmara, pemeran Raden Gatotkaca, yang untuk pertama kalinya dipercaya membawakan peran utama dalam wayang orang.
Bingar mengaku persiapan yang ia lakukan relatif singkat, hanya sekitar satu minggu latihan intensif bersama tim. Namun, proses pendalaman karakter menjadi tantangan tersendiri.
“Untuk persiapan pastinya latihan dulu. Latihan ini sekitar seminggu. Kendalanya ya pasti ada, karena memerankan tokoh wayang orang itu beda-beda, apalagi kali ini saya jadi tokoh utama,” ujar pria berusia 28 tahun tersebut usai pertunjukan pada Jumat, 22 Agustus 2025.
Peran pertama sebagai tokoh utama
Peran Gatotkaca menjadi pengalaman baru sekaligus beban tersendiri. Meski menghadapi rasa gugup dan tanggung jawab besar, ia justru melihat kesempatan ini sebagai tantangan yang akan mengasah kemampuan.
BACA JUGA: Wayang on the Street, Generasi Muda Semarang Hidupkan Kembali Seni Tradisi di Kota Lama
Bingar telah berkecimpung di dunia pertunjukan wayang orang sejak kuliah pada 2015. Setelah hampir 10 tahun, Bingar akhirnya mendapatkan peran utama.
“Jujur terasa cukup berat, karena saya masih belajar. Dan ini pertama kali saya dipercaya jadi pemeran utama. Jadi harus benar-benar mendalami perannya,” ungkapnya.
Untuk memperdalam karakter, Bingar tidak hanya mengandalkan latihan, tetapi juga mencari inspirasi dari berbagai sumber.
“Prosesnya saya banyak nonton referensi, baik wayang kulit maupun wayang orang. Saya juga belajar dari senior-senior bagaimana karakter Gatotkaca itu harus ditampilkan,” jelasnya.
Bingar berharap penampilannya dapat menginspirasi generasi muda lainnya untuk ikut terjun melestarikan wayang orang.
Regenerasi seniman muda
Sutradara Wayang On The Street, Budi Lee mengatakan bahwa pertunjukan kali ini melibatkan sekitar 80 orang seniman, sebagian besar anak muda berusia 18-19 tahun. Meski menghadapi kendala jadwal latihan karena aktivitas para anggota, semangat mereka tidak surut.
“Kendala pasti ada, apalagi anak-anak muda banyak kesibukan. Tapi dengan strategi dan kebersamaan, latihan tetap berjalan. Ini bukti bahwa seni tradisi tidak akan pernah mati, justru bisa berkembang sesuai zaman,” ungkapnya.
Wayang On The Street sendiri menjadi ruang terbuka bagi penonton untuk melihat langsung bagaimana anak-anak muda berusaha menjaga warisan budaya leluhur agar tetap relevan di era modern.
“Seni tradisi akan terus berkembang. Tugas kami sebagai pelaku seni adalah memastikan generasi sekarang merasa dekat dan bangga dengan wayang orang,” pungkas Budi. (*)
Editor: Farah Nazila





