SEMARANG, beritajateng.tv – Terik matahari siang di Kota Semarang terasa menyengat. Jalanan tampak berkilau diterpa panas, kendaraan berlalu-lalang tanpa jeda, sementara orang-orang mencari tempat teduh untuk sekadar melepas penat. Namun di bawah rindangnya akar pohon besar yang menjuntai di pinggir Jalan Purwosari Raya, Kecamatan Semarang Timur, ada satu gerobak sederhana yang justru ramai didatangi pembeli.
Tulisan “Es Puter Ngisor Ringen” di papan putih kecil menjadi penanda tempat ini. Tidak mencolok, bahkan nyaris tersembunyi di balik akar pohon tua. Tapi justru di situlah letak daya tariknya.
Siang itu beberapa anak muda duduk di bangku plastik kecil sambil menikmati semangkuk es puter berwarna merah muda dan cokelat. Ada yang sibuk berbincang, ada pula yang memotret sebelum menyantapnya. Sensasinya sederhana, namun terasa menenangkan di tengah udara panas Semarang.
Pedagang es puter yang akrab dipanggil Pak Gondrong mengaku sudah berjualan sejak tahun 2004. Awalnya ia jualan keliling menyusuri Jalan Kartini hingga kawasan Karangturi sebelum akhirnya memilih mangkal tetap di lokasi sekarang.
“Kalau di sini [mangkal] sudah sekitar empat tahunan. Dulu keliling terus,” ujar Pak Gondrong saat beritajateng.tv temui di lapaknya pada Jumat, 22 Mei 2026.
BACA JUGA: Cuma 10 Ribu per Porsi, Begini Nikmatnya Es Puter Pak Kirman, Es Krim Legendaris Pinggir Jalan di Semarang
Lokasi berjualannya ternyata tidak jauh dari rumah. Ia memilih berteduh di bawah pohon besar yang membuat suasana terasa lebih adem dibandingkan ruas jalan lain di sekitarnya.
Meski hanya berupa gerobak sederhana di pinggir jalan, es puter racikan Pak Gondrong punya pelanggan setia. Menu favorit pembeli adalah rasa cokelat dan durian.
Tak hanya dua rasa itu, penjual es puter itu mengaku sebenarnya memiliki sekitar 20 varian menu. Namun untuk jualan harian, ia biasanya menyediakan rasa yang paling banyak masyarakat cari terlebih dahulu.
“Yang selalu ada ya coklat sama durian karena itu favorit. Sisanya gantian, kadang alpukat, besoknya kelapa muda, kacang hijau, selingan lah,” katanya.
Harga es puter ini juga masih tergolong ramah di kantong. Dari yang dulunya dijual Rp1.000 hingga Rp1.500 saat masih berkeliling, kini satu porsi dibanderol Rp7 ribu.
“Ya awalnya Rp5.000 terus naik jadi Rp6.000. Naiknya seribu-seribu [setiap tahun],” ucapnya sambil tersenyum.
Di tengah menjamurnya dessert modern dan kafe estetik di Semarang, es puter tradisional seperti milik Pak Gondrong justru punya tempat tersendiri. Pembelinya datang dari berbagai usia, mulai anak muda hingga pelanggan lama yang sengaja mampir karena nostalgia rasa.
“[Pelanggan] ya umum semua [orang kerja, pelajar] karena murah, enak,” katanya.
Mulai Jualan Es Puter Jam 9.30 Pagi
Setiap hari Pak Gondrong mulai berjualan sekitar pukul 09.30 WIB hingga sore hari atau sampai dagangannya habis. Menurutnya, selama cuaca tidak hujan, es puternya hampir selalu ludes terjual.
“Kalau enggak hujan, [dagangan] habis,” ujarnya.
Salah satu pengunjung, Paskah Widi mengaku nostalgia dengan es puter. Menjamurnya jajanan modern saat ini justru membuatnya rindu dengan makanan-makanan jaman dulu.
“Aku kesini karena tahu dari sosmed. Kangen juga sama jajan es puter, karena sekarang kan yang sering kita jumpai kaya es krim, gelato gitu,” ujarnya.
Menurut Paskah, macam-macan varian rasa justru membuat banyak orang tertarik untuk membeli.
“Kan kalau dui rasanya paling cuma cokelat sama strawberry. Tapi sekarang banyak rasa lain jadi kaya apa ya? Es puter jaman dulu tapi rasanya juga ada penyesuaian sama jaman sekarang,” jelasnya.
BACA JUGA: Pelaksanaan Ujian Berbasis Komputer, Sejumlah Siswa SD di Semarang Sempat Kesulitan Ikuti OSN-K
Dengan harga Rp7.000 Paskah merasa puas bisa bernostalgia ke masa kecil saat menikmati es puter dengan perpaduan rasa cokelat dan durian.
Di balik kesederhanaannya, Es Puter “Ngisor Ringen” menjadi semacam hidden gem di tengah panasnya Semarang. Bukan hanya soal rasa dingin yang menyegarkan, tetapi juga suasana teduh, obrolan santai di bawah pohon, hingga sensasi menikmati jajanan lawas yang kini mulai sulit ditemukan.
Gerobak kecil itu mungkin tampak biasa bagi orang yang melintas. Namun bagi para pelanggan setianya, semangkuk es puter di bawah rindangnya pohon tua menjadi cara sederhana menikmati jeda di tengah riuh kota. (*)
Editor: Farah Nazila





