KUDUS, beritajateng.tv – Komunitas Teater Djarum kembali menghadirkan Festival Teater Pelajar (FTP) XIV sebagai panggung seni teater yang khusus bagi pelajar se-Kabupaten Kudus.
Acara tahunan ini merupakan bagian dari upaya Bakti Budaya Djarum Foundation. Bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus serta Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus.
BACA JUGA: 31 Sekolah Adu Kreativitas di Festival Teater Pelajar Kudus
Memasuki tahun ke-14, FTP 2024 mengusung tema menarik “Realitas Mimpi-Mimpi” sebagai cerminan kreativitas dan imajinasi generasi muda.
Sebanyak 41 kelompok teater dari tingkat SMP dan SMA di Kudus berkompetisi sejak babak penyisihan yang berlangsung pada 28 Oktober hingga 5 November 2024.
Babak final berlangsung selama tiga hari, yakni pada 13, 14, dan 15 Desember di GOR Kaliputu, Kudus. Pada momen ini, karya terbaik dari para pelajar tampil sebagai wujud apresiasi terhadap semangat dan dedikasi mereka dalam seni pertunjukan.
Upaya Kembangkan Bakat Seni Pelajar
Menurut Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, festival ini bukan hanya sekadar kompetisi. Tetapi juga menjadi wadah pembelajaran dan pengembangan bakat seni.
“Festival Teater Pelajar memberikan ruang bagi pelajar untuk menggali potensi, mengekspresikan ide-ide kreatif, dan belajar berkolaborasi. Kami berharap ajang ini terus menjadi inspirasi dan melahirkan generasi muda yang kreatif dan berbakat,” terangnya.
Lanjutnya, FTP juga menanamkan nilai-nilai penting seperti kedisiplinan, kerjasama, dan semangat kompetitif yang sehat. Para peserta dilatih untuk percaya diri tampil di depan publik, menyampaikan pesan melalui seni peran, serta mengeksplorasi berbagai karakter.
“Hal ini menjadikan FTP tidak hanya sebagai ajang seni, tetapi juga sarana pembentukan karakter dan pengembangan potensi,” tuturnya.
Mulai pada 2008 dengan hanya 9 peserta, FTP kini berhasil menarik 41 kelompok teater dari berbagai sekolah di Kudus.
Lonjakan partisipasi ini menunjukkan tingginya minat generasi muda terhadap seni teater. Tahun ini, tema “Realitas Mimpi-Mimpi” mengajak penonton untuk mengeksplorasi batas antara mimpi dan realitas. Menghadirkan perpaduan logika dan fantasi yang unik.
Pendekatan surealisme tentunya menantang pelajar untuk melihat mimpi sebagai inspirasi nyata dalam kehidupan.
Babak penyisihan menghadirkan 23 kelompok teater tingkat SMP dan 18 dari tingkat SMA. Karya mereka dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari para profesional di bidang teater. Seperti Alfiyanto, Andreas Teguh, dan Asa Jatmiko. Penilaian meliputi aspek penyutradaraan, pemeranan, artistik, hingga inovasi dan kreativitas.
Babak Final Festival Teater Pelajar XIV
Pada babak final FTP 2024, kelompok teater terpilih tampil di tiga malam berturut-turut:
– 13 Desember: Teater Spero (SMP 2 Kudus), Teater Dwija Arutala (MA Mu’alimat NU), dan Teater Lembah Manah (MTs 1 Kudus).
– 14 Desember: Teater Jangkar Bumi (MA Qudsiyyah), Teater Cordova (SMP IT Al-Islam), Teater Al Ma’ruf (SMA NU Al Ma’ruf), dan Teater Amuba (SMP 3 Kudus).
– 15 Desember: Teater Patas (SMA 1 Bae) dan Teater Prima (SMP 1 Dawe).
Para finalis memperebutkan penghargaan seperti Aktor dan Aktris Terbaik, Penata Musik Terbaik, Sutradara Terbaik, hingga gelar Teater Terbaik.
Penjurian final oleh tokoh-tokoh teater ternama. Di antaranya Rangga Riantiarno dari Teater Koma, Hanindawan dari Teater Gidig Solo, dan Dolfry Inda Suri dari Teater Keliling.
Sementara itu, Asa Jatmiko, Pembina Komunitas Teater Djarum, mengapresiasi semangat luar biasa dari para pelajar Kudus.
“Dukungan dari sekolah-sekolah peserta menunjukkan betapa seni teater semakin menjadi bagian penting dari budaya generasi muda. Kami berharap festival ini terus berkembang menjadi ruang kreatif yang mendorong lahirnya bakat-bakat baru,” katanya.
Sementara itu, Rangga Riantiarno menambahkan, “Semangat dan bakat luar biasa para peserta menunjukkan bahwa masa depan seni pertunjukan di Indonesia sangat cerah. Generasi muda ini adalah aset besar untuk melestarikan budaya seni teater.”
Melalui FTP, para pelajar tidak hanya diberikan kesempatan untuk bersaing, tetapi juga untuk belajar, berkolaborasi, dan berkreasi.
Festival ini menjadi saksi atas bakat luar biasa dari generasi muda Kudus sekaligus memperkuat peran seni teater sebagai bagian integral dalam pengembangan budaya masyarakat. (*)
Editor: Elly Amaliyah





