Di satu sisi, Sartika masih terbelenggu oleh rasa utang budi yang mendalam, sementara di sisi lain, terbentang peluang untuk memulai hidup baru bersama anak yang sangat ia sayangi.
Pertentangan batin inilah yang membuat langkahnya terus terbayang-bayang dan penuh ragu. (*)





