BLORA, beritajateng.tv — Badan Koordinasi Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (Badko LPQ) Provinsi Jawa Tengah menggelar Workshop Peningkatan Mutu Kelulusan Santri se-Eks Karesidenan Pati di Aula Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Blora, Minggu, 30 November 2025.
Acara tersebut merupakan agenda strategis untuk menyamakan standar kualitas lulusan TPQ, Madin, serta lembaga pendidikan keagamaan di Jawa Tengah.
Dalam sambutannya, Ketua Badko LPQ Jawa Tengah, Nur Fauzan Ahmad, menegaskan pembenahan mutu santri ialah kebutuhan mendesak. Mengingat, masih terjadinya ketimpangan kualitas bacaan, hafalan, hingga praktik ibadah antar-lembaga.
Menurutnya, tanpa standar kelulusan santri yang jelas, kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan keagamaan dapat menurun.
BACA JUGA: Ketum PBNU Tolak Ultimatum Mundur, Hersubeno Arief: Tak Sesuai Adab Santri kepada Kiai Sepuh
Nur Fauzan menyoroti fakta di lapangan masih ada santri yang lulus namun bacaan Al-Qur’annya belum sesuai kaidah, hafalan belum memadai, hingga praktik ibadah yang belum sempurna.
“Jika membiarkan ketimpangan kualitas ini, tentu akan menurunkan kepercayaan masyarakat. Karena itu kita butuh quality control yang jelas. Santri di kota maupun di desa harus memiliki standar minimal kompetensi yang sama,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa penyamaan standar bukan sekadar formalitas, tetapi bentuk tanggung jawab moral lembaga kepada masyarakat dan orang tua.
Perlu kriteria kelulusan santri yang lebih terukur
Dalam forum tersebut, berlangsung penyusunan kriteria kelulusan yang lebih terukur dan penerapan kurikulum yang lebih terpadu. Nur Fauzan menekankan bahwa sertifikat kelulusan santri harus menjadi bukti kemampuan, bukan sekadar simbol.
“Setiap sertifikat harus menjadi jaminan bahwa santri tersebut benar-benar telah memenuhi standar kompetensi. Ini soal tanggung jawab kita kepada umat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Blora, Mustofa, saat membuka workshop memaparkan perjuangannya sejak awal menjabat sebagai anggota DPRD terkait upaya memberi insentif bagi guru TPQ dan Madin melalui APBD Blora.
BACA JUGA: PWNU Jateng Gelar Jalan Sehat Hari Santri, 25 Ribu Peserta Padati Stadion Pandanaran
Menurutnya, upaya tersebut sempat berkali-kali ditolak karena dinilai tidak sesuai regulasi. Namun, melalui diskusi panjang dan pembahasan regulasi, kebijakan akhirnya dapat berjalan dan kini terus ada peningkatan.
“Ini perjuangan panjang. Dulu selalu kena tolak. Tetapi karena kami yakin pentingnya, akhirnya regulasi bisa tembus. Hingga hari ini insentif ini terus kami pertahankan,” jelasnya.
Termasuk untuk tahun anggaran berjalan, Mustofa menegaskan DPRD akan berupaya mempertahankan alokasi dana keagamaan agar tidak terkena pemotongan, meskipun terjadi efisiensi besar akibat penurunan transfer daerah.
Komitmen DPRD Blora untuk kegiatan keagamaan
Saat membahas pemotongan transfer daerah yang mencapai Rp375 miliar, Mustofa tegas meminta agar pos keagamaan, terutama insentif guru TPQ dan Madin, dipertahankan.
“Harapan kami, [insentif] untuk guru TPQ dan Madin jangan sampai terpotong. InsyaAllah DPRD akan memperjuangkan itu,” ujarnya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa setiap kegiatan keagamaan di Blora selalu terfasilitasi secara inklusif di rumah Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora. Baik untuk kalangan NU, Muhammadiyah, hingga ormas islam lainnya.
Mustofa juga menyampaikan penghormatan kepada Fatah Syukur, narasumber di acara tersebut, yang ia sebut pernah menjadi dosennya saat ia berkuliah di UIN Walisongo Semarang.
“Sudah 20 tahun tidak bertemu. Banyak nilai kampus yang saya terapkan dalam dunia politik. Beliau adalah guru saya,” ucapnya.
BACA JUGA: Beasiswa Santri Meluncur, Mohammad Saleh Apresiasi Pemprov Jateng Peduli Pesantren
Ketua Badkom LPQ Kabupaten Blora, Siti Qomariah, pun menyambut baik kegiatan ini. Ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran para peserta.
“Suatu kehormatan bagi kami sebagai tuan rumah. Harapannya ke depan dapat meningkatkan mutu pendidikan bagi kelulusan TPQ di masing-masing wilayah,” ujarnya.
Workshop ini harapannya menjadi tonggak awal penyeragaman standar mutu lulusan santri di wilayah eks Karesidenan Pati, sekaligus memperkuat kualitas pendidikan keagamaan di Jawa Tengah.
Turut dalam acara ini, Badkom LPQ di 5 Kabupaten se-eks Karesidenan Pati, yaitu Blora, Kudus, Pati, Grobogan, dan Rembang. Masing-masing Kabupaten mengirimkan 10 orang peserta. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi




