SEMARANG, beritajateng.tv – Di balik aliran sungai yang membelah sejumlah kawasan di Semarang, ancaman terhadap ekosistem air tawar perlahan muncul.
Ikan sapu-sapu, spesies invasif yang terkenal tangguh dan cepat berkembang biak, kini semakin mudah warga dapati di berbagai titik sungai kota.
Ikan bernama ilmiah Hypostomus plecostomus ini bukan sekadar penghuni baru. Kehadirannya membawa dampak serius karena terkenal memakan telur ikan lain. Termasuk spesies lokal yang seharusnya berkembang secara alami di perairan tersebut.
Kondisi ini langsung warga Genuksari, Sugeng rasakan. Pria yang gemar memancing itu mengaku semakin sering menemukan ikan sapu-sapu saat beraktivitas di sungai.
Sugeng mengaku hampir setiap kali memancing, ikan yang didapat justru didominasi sapu-sapu. “Sering sekali dapat ikan sapu-sapu. Kemarin saja saya dapat sampai 13 ekor, ukurannya besar-besar,” kata Sugeng.
Menurutnya, ikan sapu-sapu yang tertangkap pada akhirnya tidak bisa kita manfaatkan dan justru kami buang agar tidak kembali ke sungai.
“Biasanya kita buang di darat supaya mati. Kalau kita lepas lagi, nanti ganggu ekosistem lagi,” ujarnya.
BACA JUGA: Populasi Ikan Sapu-sapu di Sungai Semarang Ancam Ekosistem, Warga Minta Penanganan Serius
Sugeng menambahkan, ukuran ikan sapu-sapu yang ia temukan cukup besar, bahkan mencapai panjang sekitar 30 hingga 40 sentimeter.
Kondisi ini membuat para pemancing merasa terganggu, karena ikan target seperti nila semakin sulit warga dapat.
“Kalau mancing sekarang jadi kurang enak. Yang di cari nila, tapi yang sering kena justru sapu-sapu,” katanya.
Hal serupa Donni, warga Mangunharjo ungkapkan. Ia menyebut keberadaan ikan sapu-sapu di sungai sekitar tempat ia bekerja sudah sangat banyak dan mudah terlihat.
“Di sini memang banyak sekali. Sering lihat ikan Sapu-sapu, bahkan kadang ikan itu lompat-lompat di permukaan,” ujar Donni.
Ia mengaku warga yang mencoba menangkap ikan dengan jaring kecil pun lebih sering mendapatkan sapu-sapu dibanding ikan lainnya.
“Kalau dijaring, kebanyakan dapat sapu-sapu. Nila malah susah didapat,” katanya.
Meski belum sepenuhnya memahami dampak ekologisnya, Donni menyadari bahwa dominasi ikan sapu-sapu membuat populasi ikan lain semakin berkurang. (*)
Editor: Elly Amaliyah




