SEMARANG, beritajateng.tv – Ujung kuas kecil itu bergerak perlahan menyapu debu di sela mahkota rupang atau patung.
Aroma bunga lima rupa menguar lembut, berpadu dengan cahaya lampu yang temaram di ruang utama Klenteng Tay Kak Sie Kota Semarang.
Menjelang Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili atau Tahun Kuda Api, para pengurus dan umat khidmat menjalankan prosesi penyucian rupang, sebuah ikhtiar spiritual untuk menyambut tahun baru dengan hati dan tempat ibadah yang kembali bersih serta penuh harapan.
Tisu lembut digunakan untuk memastikan setiap detail tetap terjaga. Beberapa ember berisi air campuran bunga lima macam diletakkan di depan altar, menghadirkan wangi segar yang memenuhi ruangan.
BACA JUGA: Ada yang Spesial, Intip Jadwal Perayaan Imlek Klenteng Tay Kak Sie Semarang
Sekretaris Yayasan Tay Kak Sie, Ivan Eko Harahap, menjelaskan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan Imlek.
“Hari ini kita masih dalam rangka perayaan Imlek. Setelah kemarin kita mengantar dewa naik ke langit, sekarang kita bersih-bersih klenteng. Pelaksanaan ini memang rutin menjelang Tahun Baru Imlek,” ujar Ivan di sela kegiatan bersih-bersih pada Kamis, 12 Februari 2026.
Hati-Hati dan Penuh Penghormatan
Membersihkan rupang bukan sekadar aktivitas kebersihan biasa. Ada kehati-hatian dan penghormatan dalam setiap sentuhan. Mengingat usia dan nilai historis rupang yang sebagian telah ada sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu, proses pembersihan berlangsung dengan sangat teliti.
“Kita pakai kuas, tisu, dan alat kebersihan lainnya. Karena ini pembersihan rupang, tentu harus sangat hati-hati,” jelasnya.
Di Klenteng Tay Kak Sie sendiri terdapat 29 altar, dengan jumlah rupang mencapai lebih dari 100 buah. Setiap rupang dibersihkan satu per satu, memastikan tidak ada debu yang tersisa menjelang pergantian tahun.
Air yang digunakan pun tidak sembarangan. Campuran air dengan lima jenis bunga dipilih bukan hanya untuk memberikan aroma wangi, tetapi juga melambangkan kesucian dan harapan baik.
“Kita pakai campuran bunga lima macam, biar wangi dan terasa lebih bersih,” tambah Ivan.
Simbol Membersihkan Diri dan Harapan Baru
Tradisi bersih-bersih rupang memiliki makna filosofis mendalam. Tidak hanya membersihkan altar secara fisik, tetapi juga menjadi simbol pembersihan diri menyongsong tahun yang baru.
“Untuk menyambut tahun baru, tentunya harus bersih semua, rapi semua. Masa mau menyambut tahun baru tidak dibersihkan? Kita rapikan, kita bersihkan supaya di tahun ini semuanya bagus, rezekinya padang kabeh,” ungkap Ivan.
Di sela kegiatan, tampak umat bekerja sama tanpa sekat. Ada yang membersihkan rupang besar di altar utama, ada pula yang merapikan perlengkapan sembahyang. Kebersamaan itu mempertegas bahwa Imlek bukan hanya perayaan, tetapi juga momentum mempererat solidaritas.
Harapan di Tahun Kuda: Energi dan Pertumbuhan Ekonomi Cepat
Memasuki Tahun Kuda, Ivan menyebut ada optimisme yang mengiringi. Dalam filosofi Tionghoa, kuda melambangkan energi, kecepatan, dan semangat pantang menyerah.
“Kuda itu energik dan cepat. Kita berharap di tahun ini pertumbuhan ekonomi juga cepat melesat. Terutama semua sehat, rezeki lancar,” katanya.
BACA JUGA: Simbol Penyucian Diri Jelang Tahun Baru Imlek, Klenteng Tay Kak Sie Semarang Bersihkan Klenteng dan Rumpang
Di tengah gemerlap warna emas dan merah yang mendominasi ruang klenteng, tradisi bersih-bersih rupang menjadi pengingat bahwa setiap awal yang baik selalu mulai dari niat membersihkan dan merapikan.
Dari altar-altar bersejarah di Tay Kak Sie, harapan untuk tahun yang lebih cerah kembali dipanjatkan agar kesehatan, kelancaran rezeki, dan pertumbuhan ekonomi benar-benar berlari sekencang kuda di tahun ini. (*)
Editor: Farah Nazila





