Jateng

Imbas Larangan Pesta Kembang Api, Okupansi Hotel di Semarang Turun Hingga 20 Persen

×

Imbas Larangan Pesta Kembang Api, Okupansi Hotel di Semarang Turun Hingga 20 Persen

Sebarkan artikel ini
langit di atas lapangan simpang lima semarang
Langit di atas Lapangan Simpang Lima Semarang yang dihiasi kembang api dari para pengunjung. Kamis, 1 Januari 2025 dini hari. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Tingkat hunian hotel di Kota Semarang tercatat mengalami penurunan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah imbauan pemerintah untuk tidak menyalakan kembang api saat malam pergantian tahun.

Dampak kebijakan ini terasa oleh sejumlah hotel, salah satunya Hotel Ciputra Semarang. Marketing Communication Hotel Ciputra Semarang, Rina Aprilia Hapsari, menyebut imbauan tersebut berpengaruh signifikan terhadap minat tamu untuk menginap.

“[Imbauan untuk tidak menyalakan kembang api] iya, sangat berpengaruh,” ujar Rina saat beritajateng.tv konfirmasi pada Jumat, 2 Januari 2025.

Ia menjelaskan, larangan penyelenggaraan pesta kembang api yang merupakan tindak lanjut kebijakan Kepolisian Republik Indonesia dan Pemerintah Kota Semarang berdampak langsung pada tingkat okupansi hotel.

“Terkait larangan penyelenggaraan pesta kembang api sebagai tindak lanjut dari kebijakan yang dikeluarkan oleh Kepolisian Republik Indonesia dan Pemerintah Kota Semarang, memang terdapat dampak yang kami rasakan,” ungkapnya.

BACA JUGA: Hadirkan Pasar Murah, Pemerintah Pastikan Stok Bahan Pokok Aman dari Nataru hingga Lebaran

Berdasarkan catatan manajemen, okupansi Hotel Ciputra Semarang selama libur Nataru 2025/2026 mengalami penurunan sekitar 20 persen.

Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, tingkat hunian hotel tersebut mampu mencapai 100 persen.

“Kami mencatat adanya penurunan tingkat okupansi sekitar 20 persen, serta sejumlah pembatalan reservasi dari tamu yang sebelumnya telah melakukan pemesanan,” jelas Rina.

Menurutnya, pesta kembang api selama ini menjadi salah satu magnet utama bagi tamu hotel saat malam tahun baru. Ketika agenda tersebut ditiadakan, sebagian tamu memilih membatalkan rencana menginap.

“Hal tersebut terjadi karena pesta kembang api selama ini menjadi salah satu daya tarik utama yang dinantikan oleh para tamu yang menginap saat malam pergantian tahun. Namun demikian, pada umumnya tamu dapat memahami kebijakan tersebut karena merupakan ketentuan resmi dari pemerintah,” tandasnya.

Sementara itu, kondisi berbeda disampaikan oleh Marcom Executive Novotel Semarang, Theresia Andini. Ia menyebut tingkat hunian hotelnya selama periode Nataru relatif stabil. Meski pada malam tahun baru tidak terisi penuh, okupansi tetap tergolong tinggi.

“Kalau pas tanggal 31 Desember enggak penuh, 90 persen,” ungkapnya.

BACA JUGA: Jelang Libur Nataru, Tingkat Okupansi Hotel di Kota Semarang Masih di Bawah 70 Persen

Theresia menjelaskan, tingkat hunian Novotel Semarang pada malam tahun baru mencapai sekitar 90 persen. Sedikit menurun dari periode sebelumnya yang bisa menembus 100 persen. Ia juga menyoroti adanya pergeseran puncak okupansi antara Natal dan Tahun Baru.

“[Okupansi] kebalikan sama tahun lalu. Kalau tahun lalu itu Natalnya enggak penuh, cuman tahun barunya penuh. Tapi kalau tahun ini Natalnya penuh, tapi tahun barunya enggak full,” jelasnya.

Di sisi lain, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Heru Isnawan menilai tingkat hunian hotel di Semarang selama Nataru secara umum masih stabil. Menurutnya, imbauan tidak menyalakan kembang api tidak berdampak merata ke seluruh hotel.

“Di beberapa hotel [okupansi] cukup baik. Mungkin di Ciputra [menurun] karena mereka punya atraksi tersendiri [kembang api], dan kebetulan nggak ada lalu ada sesuatu yang hilang,” tegas Heru.

Ia menambahkan, sejumlah hotel yang sebelumnya mengandalkan atraksi kembang api kini menggantinya dengan program atau acara alternatif untuk tetap menarik minat tamu selama malam pergantian tahun. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp