Ia juga menyoroti tema Harmoni Nusantara yang diusung tahun ini. Tema tersebut dinilai relevan karena perayaan Imlek berdekatan dengan Dugderan menjelang Ramadan serta masa awal Prapaskah bagi umat Kristiani.
“Dalam satu waktu ada tiga momentum keagamaan berjalan hampir bersamaan. Ini indah. Semarang menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang, tetapi kekuatan,” ujarnya.
Agustina turut menyinggung Warak Ngendog, ikon akulturasi budaya Semarang yang memadukan unsur Tionghoa, Jawa, dan Arab. Baginya, simbol itu menjadi representasi nyata wajah kota yang inklusif dan harmonis.
Menutup sambutannya, ia mengajak masyarakat menjaga suasana kondusif selama rangkaian perayaan berlangsung, mulai dari Imlek, Dugderan, hingga Ramadan.
“Atas nama Pemerintah Kota Semarang, kami mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek 2577. Semoga keberkahan, kemakmuran, dan kedamaian menyertai langkah kita membangun Semarang yang semakin hebat,” pungkasnya.
Salah satu pelaku UMKM, Liana (34), mengaku dagangannya laris sejak sore hari. “Saya jual makanan ringan khas Imlek. Alhamdulillah ramai sekali. Event seperti ini sangat membantu kami,” tuturnya. (*)
Editor: Elly Amalia





