Nasional

India dan Indonesia Dorong Napas Baru Jurnalisme Lokal: Global Stories Start Local

×

India dan Indonesia Dorong Napas Baru Jurnalisme Lokal: Global Stories Start Local

Sebarkan artikel ini
Jurnalisme Lokal
Asisten Editor Senior Anandabazar Patrika (ABP) India, Swati Bhattacharjee, dalam Voices of Tommorow Session 10: Local Journalism and Community Engagement, Sabtu, 8 November 2025. (Foto: YouTube/India News Desk)

ABP kini beradaptasi dengan era digital melalui versi e-paper dan sistem langganan daring. Model ini meniru pola The New York Times dengan tetap mempertahankan muatan lokal.

“Kami hanya mengubah medium, bukan nilai. Pembaca kami beradaptasi cepat,” tambahnya.

Dari Indonesia, Direktur Eksekutif AMSI, Elin Y. Kristanti, menunjukkan bagaimana media lokal tetap hidup lewat kedekatan dengan pendengar. Ia mencontohkan Suara Surabaya, Tri Jaya FM, dan KBR sebagai tiga model radio yang kuat membangun relasi sosial.

Suara Surabaya, kata Elin, bukan sekadar radio berita. Ketika warga kehilangan mobil, mereka melapor ke radio, bukan ke polisi. Dari situ, radio menghubungkan warga dengan aparat dan menumbuhkan kembali budaya kerja bakti pascapandemi.

Ada pula kisah Tri Jaya FM, ketika penyiar dan pendengar berhasil mencegah seseorang melakukan percobaan bunuh diri setelah mendengar pesannya lewat WhatsApp siaran.

Sementara itu, KBR memfokuskan diri pada isu perubahan iklim dan keberagaman pangan lokal, melawan narasi seragam yang industri bentuk.

“Media lokal itu bukan sekadar sumber informasi. Ia tempat orang merasa dilibatkan,” terang Elin.

Tantangan Jurnalisme Lokal: Bertahan di Tengah Tekanan Iklan dan Biaya Operasional

Namun, di balik cerita idealisme itu, Elin menyebut realitas ekonomi yang keras. Hasil survei AMSI dan Monash University 2025 menunjukkan sebagian besar pendapatan media di Indonesia masih bergantung pada iklan pemerintah dan platform digital seperti Google AdSense.

“Situasi ini rapuh. Ketika pemerintah menahan iklan, media bisa mati,” ungkap Elin.

Di India, Swati mengakui adanya tantangan serupa. Media yang terlalu kritis kerap kehilangan iklan atau dukungan bisnis. Sebagian kecil bergantung pada trust fund dan urunan publik.

BACA JUGA: Hubungan India-Indonesia Poros Kuat di Indo Pasifik, Jurnalis Soroti Arah Baru Diplomasi Prabowo

Keduanya sepakat, kemandirian ekonomi adalah syarat utama agar media bisa menjaga independensi. Tapi di saat bersamaan, tantangan etika juga muncul, yakni bagaimana tetap objektif saat jurnalis terlibat langsung dalam komunitas yang ia liput.