SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah dominasi media besar, suara-suara dari daerah sering tenggelam di pusaran pemberitaan nasional. Namun, bagi Asisten Editor Senior Anandabazar Patrika (ABP) India, Swati Bhattacharjee, masa depan justru ada di tangan jurnalisme lokal yang berakar pada komunitas.
“Metro media has lost touch with people (Media metropolitan telah kehilangan kontak dengan masyarakat),” ujar Swati dalam Voices of Tommorow Session 10: Local Journalism and Community Engagement, Sabtu, 8 November 2025.
Swati menilai, media yang terlalu berpusat di kota besar akhirnya gagal menangkap realitas yang masyarakat hadapi, terutama mereka yang hidup di daerah.
BACA JUGA: India dan Indonesia Bawa Arah Baru di ASEAN: Dari Maritim, Energi hingga Pangan untuk Asia Mandiri
Koran Benggala hingga Radio Lokal di Surabaya, Napas Panjang Jurnalisme Lokal
Anandabazar Patrika ialah salah satu koran tertua di India yang terbit di Benggala Barat. Meski berusia hampir seabad, Swati menilai, media ini bisa bertahan karena terus mendengarkan pembacanya.
“Di atas kertas, panchayat (pemerintah lokal) di India punya kekuasaan besar. Tapi siapa yang memantau kerja mereka kalau media lokal hilang?” ungkapnya.
Swati menyebut perannya bukan sekadar menulis berita, tetapi membangun diskursus, sebuah percakapan berkelanjutan yang menumbuhkan kesadaran dan mendorong perubahan sosial.
Ia menjelaskan, ketika jurnalis menulis isu, tulisan itu harus memantik percakapan publik, menghasilkan tindakan nyata, lalu kembali dilaporkan dampaknya. Sebuah siklus conversation–action–coverage yang menurutnya menjadi inti dari jurnalisme lokal.
Ia mencontohkan penelitian di Delhi bersama Hindustan Times dan ekonom Abhijit Banerjee, yang mana warga di 200 permukiman menerima “kartu laporan” berisi kinerja anggota legislatif mereka. Hasilnya, tingkat partisipasi pemilih meningkat, dan politisi dengan kinerja buruk kehilangan dukungan publik.
BACA JUGA: Bagaimana India Tata Ulang Transportasi Publik dan Emisi: Bukan Kemewahan, Udara Bersih Hak Semua Orang
ABP kini beradaptasi dengan era digital melalui versi e-paper dan sistem langganan daring. Model ini meniru pola The New York Times dengan tetap mempertahankan muatan lokal.
“Kami hanya mengubah medium, bukan nilai. Pembaca kami beradaptasi cepat,” tambahnya.
Dari Indonesia, Direktur Eksekutif AMSI, Elin Y. Kristanti, menunjukkan bagaimana media lokal tetap hidup lewat kedekatan dengan pendengar. Ia mencontohkan Suara Surabaya, Tri Jaya FM, dan KBR sebagai tiga model radio yang kuat membangun relasi sosial.
Suara Surabaya, kata Elin, bukan sekadar radio berita. Ketika warga kehilangan mobil, mereka melapor ke radio, bukan ke polisi. Dari situ, radio menghubungkan warga dengan aparat dan menumbuhkan kembali budaya kerja bakti pascapandemi.
Ada pula kisah Tri Jaya FM, ketika penyiar dan pendengar berhasil mencegah seseorang melakukan percobaan bunuh diri setelah mendengar pesannya lewat WhatsApp siaran.
Sementara itu, KBR memfokuskan diri pada isu perubahan iklim dan keberagaman pangan lokal, melawan narasi seragam yang industri bentuk.
“Media lokal itu bukan sekadar sumber informasi. Ia tempat orang merasa dilibatkan,” terang Elin.
Tantangan Jurnalisme Lokal: Bertahan di Tengah Tekanan Iklan dan Biaya Operasional
Namun, di balik cerita idealisme itu, Elin menyebut realitas ekonomi yang keras. Hasil survei AMSI dan Monash University 2025 menunjukkan sebagian besar pendapatan media di Indonesia masih bergantung pada iklan pemerintah dan platform digital seperti Google AdSense.
“Situasi ini rapuh. Ketika pemerintah menahan iklan, media bisa mati,” ungkap Elin.
Di India, Swati mengakui adanya tantangan serupa. Media yang terlalu kritis kerap kehilangan iklan atau dukungan bisnis. Sebagian kecil bergantung pada trust fund dan urunan publik.
BACA JUGA: Hubungan India-Indonesia Poros Kuat di Indo Pasifik, Jurnalis Soroti Arah Baru Diplomasi Prabowo
Keduanya sepakat, kemandirian ekonomi adalah syarat utama agar media bisa menjaga independensi. Tapi di saat bersamaan, tantangan etika juga muncul, yakni bagaimana tetap objektif saat jurnalis terlibat langsung dalam komunitas yang ia liput.
“NGO boleh berpihak pada tujuan tertentu, tapi jurnalis harus memberi ruang pada semua suara,” ucap Swati.
Global South, Local Strength, AMSI dorong India dan Indonesia Perkuat Jurnalisme Lokal
Di akhir sesi, Elin menyoroti pentingnya kerja sama lintas batas antara India dan Indonesia, dua negara yang sama-sama menghadapi tantangan serupa sebagai bagian dari Global South.
“Menjaga jurnalisme lokal tidak bisa kita lakukan sendirian. Kita harus berkolaborasi,” kata Elin.
Ia mengusulkan kolaborasi liputan lintas negara untuk isu yang sama-sama dihadapi masyarakat pesisir, perempuan pekerja, hingga perubahan iklim.
Menurutnya, baik di India maupun di Indonesia, benang merahnya sama, jurnalisme lokal tetap menjadi nafas dari demokrasi. “Global stories start local,” tegas Elin. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





