SEMARANG, beritajateng.tv – Informasi terbaru terkait musibah yang menimpa Pondok Pesantren Al Khoziny yakni korban masih terus dalam tahap pencarian.
Tim SAR gabungan menyampaikan bahwa masih ada puluhan santri yang belum juga ditemukan.
Suharyanto selaku Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berharap proses evakuasi yang terus berlangsung membuahkan hasil.
BACA JUGA: Sejarah Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo, Pesantren Tertua di Jatim yang Cetak Banyak Ulama
Situasi ini dinilai sangat berisiko karena bangunan berada dalam kondisi yang belum stabil.
Tanggung jawab atas insiden ini dikaitkan dengan dua pihak, yakni kontraktor yang dinilai tidak memiliki keahlian dan pengalaman teknis memadai, serta pengelola pondok pesantren yang memaksakan pembangunan tanpa mempertimbangkan risiko secara matang.
Korban Al Khoziny Masih Tahap Pencarian
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyampaikan duka cita mendalam dan menegaskan bahwa kejadian semacam ini tidak boleh terjadi lagi.
Ia menyesalkan insiden robohnya bangunan pondok pesantren yang seharusnya menjadi tempat aman bagi para santri akibat kelalaian dalam aspek teknis.
Penggunaan alat berat untuk mempercepat pembersihan puing-puing terus berjalan. Bahkan upaya tersebut berfokus pada titik-titik tertentu yang memungkinkan adanya korban.
Meski begitu, penggunaan alat berat ini tidak mereka gunakan secara sembarang.
Langkah tersebut bertujuan supaya tidak membahayakan pada korban yang masih tertimbun.
Peristiwa ini terjadi pada Senin 29 September 2025 menyebabkan puluhan santri terjebak di bawah reruntuhan bangunan tersebut.
Musibah tersebut bahkan menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak. Upaya penyelamatan terus berlangsung sejak hari pertama terjadinya peristiwa ini.
Hingga akhirnya alat berat mulai berjalan setelah para petugas memastikan tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan.
BACA JUGA: Berusaha Selamatkan Temannya Namun Nyawanya Sendiri Tak Tertolong, Ini Cerita Rafi Santri Al Khoziny
Pakar Teknik Sipil Struktur ITS, Mudji Irmawan, mengungkapkan bahwa bangunan pondok pesantren awalnya berdiri hanya untuk satu lantai.
Namun, seiring bertambahnya jumlah santri, bangunan tersebut semakin luas menjadi tiga lantai tanpa adanya dukungan perencanaan teknis yang memadai.
Mudji menjelaskan bahwa penambahan lantai tanpa perhitungan yang tepat menyebabkan beban struktur meningkat tajam, dari kapasitas awal 100% menjadi sekitar 300%, sehingga konstruksi tidak sanggup menahan beban tersebut. (*)





