Kemenangan ini sekaligus menunjukkan kedalaman skuad JPE. Mereka tidak hanya bergantung pada satu pemain, tetapi mampu menjaga performa meski melakukan rotasi.
Usai pertandingan, pelatih JPE Bullent Karsioglu mengungkapkan kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan di laga tersebut.
“Permainan sempat berjalan lebih lambat karena suhu cukup panas, sekitar 30 derajat, sehingga pemain cepat berkeringat,” ujarnya.
Ia berharap kondisi di Grand Final nanti lebih bersahabat agar timnya bisa menampilkan strategi yang lebih maksimal.
“Semoga cuaca lebih baik, sehingga kami bisa menyiapkan pendekatan permainan yang berbeda,” tambahnya.
Di sisi lain, pelatih Jakarta Popsivo Polwan, Darko Dobreskov, mengaku kecewa dengan performa anak asuhnya yang dinilai jauh dari standar.
“Ini bukan permainan kami yang biasanya. Para pemain tampil sangat buruk dan sulit saya pahami,” katanya.
Menurut Dobreskov, selama ini timnya tidak pernah berada di bawah tekanan berlebih. Namun hasil ini bisa menjadi bahan evaluasi serius.
“Mungkin kami perlu pendekatan berbeda ke pemain setelah hasil seperti ini,” ujarnya.
Dengan hasil ini, Grand Final Proliga 2026 dipastikan menghadirkan duel panas antara Jakarta Pertamina Enduro dan Gresik Phonska Plus—dua tim dengan performa paling stabil sepanjang musim.
Sementara itu, laga lanjutan Final Four masih akan berlangsung pada Sabtu (18/4/2026), mempertemukan Jakarta Garuda Jaya melawan Surabaya Samator di sektor putra, serta Jakarta Electric PLN Mobile menghadapi Jakarta Popsivo Polwan di sektor putri. (*)
Editor: Elly Amaliyah





