SEMARANG, beritajateng.tv – Menjelang Bulan Ramadan 2025, Bank Indonesia meminta Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah untuk mewaspadai pergerakan harga berbagai komoditas pangan.
Hal itu mengingat pada momentum Ramadan biasanya permintaan berbagai komoditas pangan akan meningkat signifikan. Beberapa komoditas pangan tersebut antara lain, beras, cabai merah dan cabai rawit.
Kepala Bank Indonesia Jawa Tengah, Rahmat Dwi Saputra mengatakan perekonomian di provinsi Jawa Tengah menunjukkan tren positif.
BACA JUGA: Bank Indonesia Jateng Lakukan Ekspedisi Rupiah ke Karimunjawa, Bawa Uang Baru Rp 3,6 Miliar
“Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah di triwulan IV lebih tinggi dari pada Triwulan III. Pertumbuhan ekonomi bahkan menyentuh 4,96 persen. Alhamdulillah lebih tinggi dari provinsi lain di Jawa kita lebih tinggi,” ujar Rahmat.
Menyambut Ramadan dan hari besar keagamaan Idul Fitri, Bank Indonesia telah melakukan langkah awal dengan menggelar High Level Meeting (HLM) dan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) TPID.
“Pada hari Rabu (12 Februari) lalu kami menyelenggarakan High Level Meeting di pimpin oleh pak PJ Gubernur dan TPID Jawa Tengah serta di hadiri seluruh kabupaten kota di Jateng,” ujarnya.
Sedikit informasi, pada Januari 2025 Jawa Tengah mencatatkan deflasi sebesar -0,46 persen (mtm). Hal ini sejalan dengan deflasi yang juga terjadi di seluruh wilayah di Pulau Jawa. Komoditas penyumbang utama deflasi periode Januari 2025 adalah tarif listrik, bawang merah, telur ayam ras, mobil dan tarif kereta api.
Menurut dia, sesuai arahan Pj Gubernur Jawa Tengah terkait komitmen sinergi kebijakan dalam melaksanakan program strategis Jawa Tengah dan mendukung program prioritas Pemerintah Pusat. Di mana sebagai upaya stabilisasi harga dan penanganan inflasi di wilayah Jawa Tengah akan ada perluasan replikasi program Simanis (Sinergi Inflasi Semakin Harmonis).
Selain itu juga akan ada Gerakan Pangan Murah (GPM) serentak dan meningkatkan pengawasan stok pasokan komoditas pangan.
“Apa yang sudah kami lakukan di tahun lalu akan kami lakukan juga di tahun ini. Yakni seperti Gerakan Pangan Murah (GPM), memastikan sarpras pertanian. Bahkan ada menanam di off season,” Imbuhnya.
Pihaknya sengaja menggelakan penanaman di luar musim, sehingga suplai dan produk pangan bisa terjaga.
“InsyaAllah pertumbuhan ekonomi 2025 di Jawa Tengah kami proyeksikan tetap kuat. Inflasi dengan rentang sasaran 2,5 + 1 persen,” imbuhnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





