Di antaranya egrang, engklek, lukis topeng, wayang suket, hingga pengolahan limbah organik menjadi karya berbentuk karakter. Ada pula aktivitas pertanian dan berbagai paket tematik yang dapat ԁipilih pengunjung.
Wisatawan yang datang ԁidominasi rombongan sekolah, terutama saat kegiatan outing class. Pengunjung tidak hanya berasal dari Kota Semarang, tetapi juga dari luar daerah.
“Kalau Omah Alas itu konsepnya pelestarian budaya. Kita berada di pedesaan, terutama di sini itu permainan tradisional. Ada egrang, kemudian engklek dan sebagainya. Terus ada lukis topeng, panahan tradisional,” terang Wahid.
Menurut Wahid, kegiatan budaya di Omah Alas terbuka bagi masyarakat yang ingin belajar. Selain jemparingan, pengunjung dapat mengikuti kegiatan tari, menumbuk lesung, hingga dolanan tradisional desa.
“Harapan saya Omah Alas tetap ramai, tetap sebagai pelestari budaya, tetap tempat untuk belajar melestarikan budaya. Teman-teman monggo yang mau belajar di sini,” tuturnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





