SEMARANG, beritajateng.tv – Ratusan pelajar hingga mahasiswa akhirnya dilepaskan ke orang tua masing-masing oleh Polda Jawa Tengah setelah ditangkap pada Sabtu, 30 Agustus 2025.
Pantauan beritajateng.tv, pihak Polda Jawa Tengah mempersilakan puluhan orang tua yang sudah menunggu sejak pagi masuk ke Gedung Borobudur untuk menjemput anaknya pada pukul 15.30 WIB. Mereka tertib berbaris, menunggu petugas kepolisian memanggil nama anaknya.
Sri Mulyani (47), salah satu orang tua pelajar SMK di Kota Semarang yang anaknya tertangkap akhirnya bisa bernafas lega.
Sri menuturkan, anaknya pamit untuk membeli tas bekas di sebuah toko thrifting pada Sabtu, 30 Agustus 2025. Saat melintasi kawasan Jalan Pahlawan pada sore menuju malam hari, anak Sri kedapatan berboncengan tiga alias cengtri dengan temannya.
Dalam hematnya, hal itulah yang membuat polisi menangkap anak Sri tersebut. Ia memastikan tak ada niatan anaknya untuk terlibat dalam aksi unjuk rasa yang berlangsung pada Sabtu, 30 Agustus 2025 kemarin.
Bahkan, Sri menunjukkan tas yang anaknya beli dari toko thrifting ke Gedung Borobudur Mapolda Jawa Tengah.
“[Thrifting] di mana saya enggak tahu, ini memang ada tasnya, beli di sana. Ini pun dia mengantar temannya. Enggak ada rencana untuk ikut demo, cuma kesalahan anak saya dia boncengan tiga,” jelas Sri.
Saat meninggalkan rumah, anak Sri yang tengah duduk di bangku kelas 1 SMK itu mengaku pamit ingin bermain ke rumah temannya.
Tak kunjung pulang hingga larut malam, Sri pun khawatir tak keruan dengan keadaan anaknya. Sebab, berdasarkan pengakuan Sri, tak pernah sama sekali sang anak menginap di rumah orang lain, meski saudara sekalipun.
“Pamit ke rumah temannya, biasanya dia bal-balan (bermain bola). Ya wis khawatir toh, wong anak ndak pernah keluar dari rumah, ndak pernah tidur di rumah orang, kok semaleman ndak pulang ya itu khawatir toh orang tua. Wis ndak khawatir lagi, wis lemes awake,” ucap Sri.
Berbekal intuisi kuatnya, Sri mendatangi Mapolda Jawa Tengah keesokan harinya pada Minggu, 31 Agustus 2025 pagi. “Ndak ada yang ngasih tahu, saya ada feeling sendiri mencari di sini karena keadaan lagi panas,” pungkas Sri.
Tak hanya Sri yang merasa lega, beberapa orang tua lainnya pun berlinang air mata dan memeluk erat anak mereka setelah semalam tak mendapat kepastian.
Bantah jawaban pelajar yang mengaku hanya lewat saat tertangkap polisi, Polisi: Itu jawaban ajaran provokator
Sementara itu, Dirbinmas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Siti Rondhijah, angkat bicara soal banyaknya pelajar yang mengaku hanya sekadar lewat di Jalan Pahlawan saat polisi tangkap.
Rondhijah pun membenarkan banyaknya jawaban anak-anak yang mengaku tertangkap secara tiba-tiba tanpa tahu alasan mereka tertangkap.
“Saya kemarin tanya kepada anak-anak itu, kok bisa sampai di Mapolda, bagaimana ceritanya? Jawabannya hampir sama semuanya, ‘Saya cuman numpang lewat, Bu,’” ucapnya.
Menurut Rondhijah, jawaban mayoritas pelajar yang mengaku sekadar lewat ialah jawaban ajaran provokator kerusuhan demonstrasi.
BACA JUGA: Tembakan Gas Air Mata Tak Berhenti, Warga Mugassari Saling Bantu Bagikan Pasta Gigi dan Air Gratis
“‘Saya lewat tiba-tiba ditangkap.’ Kalau yang menjawab itu satu, dua, atau mungkin sepuluh, saya percaya. Tapi hampir semua menjawab sama. Berarti apa? Diajarkan cara menjawabnya,” sambung Rondhijah.
Dalam kesempatan itu, Rondhijah juga menyampaikan pesan kepada para orang tua. Ia mengaku tak bisa membayangkan jika anaknya sendiri berada di posisi para pelajar yang harus dijemput dari kantor polisi.
“Bapak-Ibu sekalian, anak saya juga masih SMP. Saya bilang kepada mereka, ‘Kalau saya jadi orang tuamu, saya ketemu kamu di sini, saya pasti akan nangis. Saya pasti sangat sedih,’” tuturnya.
“Karena pekerjaan saya, saya selalu meninggalkan anak saya. Karena tugas saya, saya sering harus keluar kota. Anak saya tinggal dengan pembantu. Saya tidak bisa bayangkan kalau kemudian anak saya tiba-tiba harus saya jemput di kantor polisi,” imbuhnya.
Kabid Humas Polda Jateng klaim 327 pelajar dan mahasiswa yang tertangkap polisi benar anarkis: Tak cuma sekadar lewat
Senada dengan Rondhijah, Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto, juga merespons soal jawaban yang pelajar tersebut lontarkan.
Saat menanggapi soal operasi yang Polda Jawa Tengah lakukan dalam menangkap 327 pelajar dan mahasiswa yang menurut dugaan anarkistis saat demo, Artanto angkat bicara.
“Ya, namanya orang yang tertangkap pelaku anarkis, alasannya pasti banyak. Alasannya saya hanya lewat, saya hanya nonton. Namanya sudah melakukan anarkis, tidak mungkin dia hanya lewat dan sebagainya, pasti melakukan,” ujar Artanto.
BACA JUGA: Pelajar Kena Tangkap Saat Demo Semarang, Ini Cerita Ortu Tunggui Anaknya Bebas di Polda Jateng
Terlebih, klaim Artanto, ratusan pelajar dan mahasiswa yang tertangkap itu ia pastikan tertangkap tangan melakukan tindakan anarkis.
“Yang melakukan penangkapan adalah anggota yang di lapangan. Mereka ini semua adalah tertangkap tangan saat melakukan pelemparan, perusakan, kegiatan tindak pidana, sehingga ada bukti, ada saksi dan lengkap,” tegas Artanto.
“Dan oleh karena itu penyidik melakukan pendalaman lebih jauh mana yang betul-betul pelaku ini merupakan provokator dan ini betul-betul sebagai penggerak,” pungkas Artanto. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





