SEMARANG, beritajateng.tv – Hersubeno Arief menyoroti narasi istirahat panjang mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) lewat kanal YouTube Hersubeno Point pada Senin, 17 November 2025.
Ia menilai alasan kesehatan terasa janggal karena Jokowi tetap tampil pada sejumlah momen publik. “Saya melihat ada pola aneh dalam narasi istirahat,” ujar Hersubeno dalam tayangannya.
Ketua Harian PSI, Ahmad, Ali sebelumnya menyampaikan bahwa Jokowi perlu rehat penuh sampai 2027 sambil menyiapkan langkah politik PSI menuju 2029.
Namun, Hersubeno justru menemukan banyak hal yang tidak selaras dengan klaim tersebut. “Publik tentu bertanya, apakah alasan kesehatan cukup kuat?” ucapnya.
Sorotan muncul setelah Jokowi hadir pada acara penyambutan jenazah Ragaya Utsman pada kawasan Bandara Adi Sumarmo.
BACA JUGA: Kasus Roy Suryo CS Guncang Politik, Rocky Gerung Bongkar Dampak Hukum pada Jokowi dan Prabowo
Unggahan Instagram tentang momen itu memicu reaksi luas. Komentar publik mempertanyakan alasan rehat panjang karena Jokowi tampak bugar saat berbincang bersama sejumlah tokoh.
Hersubeno menilai kemunculan itu menabrak narasi yang sebelumnya muncul. “Narasi rehat tampak hadir pada momen sangat sensitif,” katanya.
Sensitivitas itu muncul karena perkara ijazah memasuki fase serius. Penyidik telah menetapkan Roy Suryo, Dr. Tifa, serta beberapa pihak lain sebagai tersangka. Mereka menunggu kesempatan bertemu Jokowi pada ruang sidang.
Dr. Tifa pernah menyampaikan harapannya lewat akun media sosial. “Saya ingin bertemu langsung dan melihat dokumen itu,” katanya.
Roy Suryo juga menunjukkan sikap tegas saat menghadapi proses hukum. “Kami mewakili rakyat yang menunggu kejelasan,” ujarnya.
Jokowi istirahat panjang sebagai strategi persidangan
Hersubeno menilai bahwa situasi hukum menciptakan tekanan kuat bagi Jokowi. “Tekanan psikologis jauh lebih berat daripada aktivitas fisik,” ujarnya.
Ia menyoroti sorotan publik terhadap isu ijazah, isu korupsi, serta langkah politik Jokowi yang terus berjalan. Publik melihat Jokowi tetap aktif bertemu tokoh, relawan, serta kelompok pendukung.
Energi justru mengalir kuat dari pihak tersangka. Pendukung mereka menyanyikan “Maju Tak Gentar” saat pemeriksaan berlangsung. Mereka menunggu momen konfrontasi pada ruang sidang untuk mengajukan pertanyaan utama: “Pak Jokowi, mana ijazah asli itu?”
Hersubeno menilai bahwa narasi istirahat dapat berfungsi sebagai pagar strategi menghindari konfrontasi langsung dengan Roy Suryo Cs di persidangan. “Narasi itu bisa mempersiapkan alasan ketidakhadiran [Jokowi] pada ruang sidang,” katanya.
Publik menunggu keputusan Jokowi, karena ketidakhadiran dapat memicu persepsi negatif. Persepsi itu bahkan mampu menekan reputasi lebih kuat daripada putusan hakim.
Rangkaian peristiwa tersebut menciptakan gambaran besar bahwa narasi istirahat mungkin tidak sekadar alasan kesehatan. Publik kini menunggu perkembangan perkara serta langkah politik menuju 2029. (*)




