Adapun tujuh lainnya para bupati masing-masing: 1) Bupati Lampung Utara, Lampung, Harmartoni Ahadis; 2) Bupati Temanggung, Jawa Tengah, Agus Setiawan; 3) Bupati Manggarai, Heribertus Geradus Laju Nabit; 4) Bupati Blora, Jawa Tengah, Arief Rohman; 5) Bupati Labuhanbatu, Sumatera Utara, Maya Hasmita; 6) Bupati Manokwari, Papua Barat, Hermus Indou; dan 7) Bupati Padang Pariaman, Sumatra Barat, John Kenedy.
Yusuf menambahkan, waktu presentasi akan berlangsung tanggal 8-9 Januari 2026. Pada hari pertama, berawal dengan silaturahmi para bupati/wali kota dengan Pengurus PWI Pusat dan para tokoh pers. Lantas berakhir dengan pengundian nomor urut dan foto bersama untuk kepentingan buku acara. Kemudian pada hari kedua, presentasi berdasarkan nomor urut yang ada.
“Dalam presentasi itu nanti Dewan Juri akan mendalami sesuai topik yang diajukan. Aspek penilaiannya meliputi penguasan materi, gaya, dan teknik presentasi serta sarana atau peraga pendukung,” tuturnya.
BACA JUGA: Terngiang Pesan Presiden, Bupati Blora Gandeng Perhutani Tanam 300 Pohon di Hutan Lindung
Memang pada saat presentasi, bupati/walikota boleh membawa rombongan, yang terdiri dari kepala dinas terkait, tokoh masyarakat, dan pengurus PWI Provinsi/Kota/Kabupaten. “Akan tetapi, mereka tidak boleh membantu bicara; hanya sebagai saksi,” tambahnya.
AK PWI Pusat 2026 mengangkat tema “Pemajuan Kebudayaan daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan, Berbasis Media dan Pers”. Dari tiga subtema, kebanyakan buati/wali kota memilih subtema “Penguatan keragaman ekspresi budaya dan interaksi budaya inklusif”.
Melalui potensi budaya masing-masing, hal itu terkait dengan 10 Objek Pemajuan Kebudayaan dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. “Dewan Juri menyoroti aspek inovasinya apa, dan dampaknya sejauh mana pada masyarakat lokal, nasional, dan global,” tandasnya.





