“Ketika kita butuh mengambil momen yang memperlihatkan pemandangan indah, bisa menggunakan lensa ultra wide, 16-35mm atau 20mm, lensa medium untuk bokeh yang cantik, dan lensa tele 70-200, untuk momen-momen candid,” jelas Leo.
3. Jaga Komunikasi yang Baik dengan Klien
Komunikasi yang baik merupakan kunci dalam segala aspek di kehidupan, tidak terkecuali dalam berbisnis foto dan video pernikahan.
“Cara kita berkomunikasi itu sangat penting. Kita berkomunikasi dengan klien tidak hanya ketika dalam pemotretan saja, tapi, juga penting saat persiapan sebelumnya, mulai dari mendiskusikan konsep foto, menentukan lokasi, mengatur pakaian dan lain sebagainya,” ujar Leo.
Ia menyarankan untuk jujur dan terbuka dengan klien. Kejelasan teknis harus dibahas secara detail sejak awal sehingga tidak mengecewakan mereka di kemudian hari.
4. Kemampuan Menjaga Mood dan Mengarahkan Gaya
Bila menjadi fotografer atau videografer pernikahan, para klien tidak selalu seorang model atau selebriti yang terbiasa bergaya di depan kamera. Kebanyakan dari mereka akan canggung, malu, tegang, kaku, atau bahkan merasa mudah lelah dan terintimidasi dengan kamera. Di sinilah kemampuan juru kamera diuji.
“Klien itu yang bayar kita, bukan model yang kita bayar untuk profesional. Bagaimana caranya buat mood mereka baik dan tidak kaku? Tentu mood kita sendiri harus baik terlebih dahulu,” imbuh Leo.
Dengan suasana hati yang baik, tanpa kita sadari itu akan tertular pada suasana hati klien pula. Dengan mood kedua pihak yang baik, proses pemotretan akan semakin mulus.
Leo menganjurkan untuk menyiapkan peralatan setidaknya satu hari sebelum jadwal pemotretan, bawa pula peralatan yang ringkas dan tidak merepotkan. Peralatan yang ringkas akan memudahkan pekerjaan dan memungkinkan suasana hati terjaga.





