Jateng

Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan di Semarang Tertinggi Se-Jateng, Kepala DP3AKB Jawa Tengah Ungkap Alasannya

×

Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan di Semarang Tertinggi Se-Jateng, Kepala DP3AKB Jawa Tengah Ungkap Alasannya

Sebarkan artikel ini
Kekerasan Perempuan Anak
Kepala DP3AKB Provinsi Jateng Retno Sudewi saat ditemui di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Kamis, 5 Oktober 2023. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kota Semarang menjadi wilayah tertinggi kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan. Data yang dirilis Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Tengah menunjukkan kasus kekerasan terhadap perempuan di Kota Semarang per Agustus 2023 mencapai 97 kasus.

Sementara itu, kasus kekerasan terhadap anak di Kota Semarang per Agustus 2023 mencapai 82 kasus. Disinggung soal alasan Kota Semarang jadi yang tertinggi se-Jateng, Kepala DP3AKB Provinsi Jateng Retno Sudewi angkat bicara.

Menurut Retno, kemauan warga Kota Semarang untuk melapor jika terjadi kekerasan, baik terhadap perempuan maupun anak, cukup tinggi.

“Kita lihat bahwa speak up untuk masyarakat (di Kota Semarang) itu lebih besar,” ujar Dewi usai menghadiri peluncuran aktivasi layanan SAPA 129 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kamis, 5 Oktober 2023.

BACA JUGA: Lewat Layanan SAPA 129, Wanita dan Anak yang Alami Kekerasan dapat Melapor 24 Jam

Selain itu, melihat Semarang sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah, Dewi merasa sosialisasi terkait kekerasan terhadap anak dan perempuan lebih gencar di Kota Atlas ini. Tak ayal hal itu membuat banyak pihak tak segan melapor jika mengalami atau melihat adanya kekerasan pada anak maupun perempuan.

“Sosialisasinya di Kota Semarang juga gencar, sehingga mereka berani melaporkan, mereka tidak malu, dan mereka tidak takut,” sambungnya.

Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) di Kota Semarang, lanjut Dewi, rasa-rasanya sudah terbentuk dengan baik. Menurutnya, hal itu selaras dengan peningkatan kepercayaan masyarakat untuk melaporkan kasus kekerasan.

“Masyarakat itu jadi percaya untuk melapor, bahwa nanti mereka akan didampingi. Mereka juga percaya bahwa dengan layanan yang sudah dibentuk di Kota Semarang itu akan mendampingi sampai kasusnya tuntas, layanan itu pun optimal,” bebernya.

Data kasus kekerasan anak dan perempuan seperti fenomena gunung es, ini alasannya

Lebih lanjut, Dewi menuturkan bahwa data yang masuk ke pihaknya tak berbeda dengan fenomena gunung es.

“Angka kekerasan atau data yang masuk ke kami itu seperti fenomena gunung es, jadi hanya pucuknya saja. Semakin lama, semakin masyarakat itu akan terbuka,” tegasnya.

Sebagai upaya menghadapi kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan, Dewi mengaku pihaknya kini berkolabrasi dengan berbagai stakeholder. Ia menggandeng organisasi hingga komunitas agar lebih dekat kepada masyarakat. Khususnya, untuk mengimbau masyarakat melapor jika melihat kekerasan terhadap anak maupun wanitra.

BACA JUGA: Kasus Kekerasan pada Anak dan Wanita di Jateng Tahun 2023 Menurun, Ini Upaya DP3AKB

“Kami mulai mendekat dan kolaborasi dengan organisasi perempuan yang lain, tokoh agama, dan juga organisasi masyarakat maupun forum anak. Itu upaya kami untuk lebih dekat dengan masyarakat,” bebernya.

Terlebih, peluncuran layanan hotline 24 jam SAPA 129 membuatnya yakin masyarakat semakin percaya dan merasa aman untuk melapor jika mengalami kekerasan.

“Salah satunya dengan layanan aktivasi SAPA 129. Masyarakat sudah percaya untuk melaporkan, mereka tidak takut dan malu lagi untuk melaporkan,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp