Politik

Katib Syuriah Soroti Ultimatum Rais ‘Aam, Nilai Tak Sesuai Prosedur

×

Katib Syuriah Soroti Ultimatum Rais ‘Aam, Nilai Tak Sesuai Prosedur

Sebarkan artikel ini
Dinamika Internal PBNU Menghangat, Isu Desakan Mundur Gus Yahya Dibantah Keras
beredarnya dokumen Risalah Rapat Harian Syuriah yang memuat permintaan agar Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), mengundurkan diri. (Doc. PBNU)

JAKARTA, beritajateng.tv – Suasana internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali mencuat ke permukaan setelah pernyataan tegas dari Katib Syuriah PBNU, KH Nurul Yakin Ishaq, menarik perhatian publik.

Ia menanggapi ultimatum Rais ‘Aam yang meminta Ketua Umum PBNU mundur atau akan dimundurkan melalui keputusan Rapat Harian Syuriah.

Kyai Nurul Yakin melihat ultimatum Rais ‘Aam itu sebagai langkah yang tidak memiliki pijakan organisasi maupun landasan syar’i.

Ia menilai proses itu tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk memberhentikan Ketua Umum PBNU yang merupakan mandataris Muktamar.

BACA JUGA: Sempat Menghindar, Sekjen PBNU Gus Ipul Respons Pemakzulan Gus Yahya: Serahkan ke Para Ulama

Ia menjelaskan bahwa AD/ART NU menempatkan Ketua Umum sebagai pihak yang mendapatkan mandat langsung dari Muktamar.

Karena itu, perubahan atau pemberhentian hanya dapat berjalan melalui forum permusyawaratan tertinggi, bukan lewat rapat internal harian.

“Rapat Harian Syuriyah tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikan Ketua Umum PBNU. Bahkan untuk memberhentikan pengurus lembaga pun rapat tersebut tidak berwenang,” ujar Kyai Nurul Yakin, Selasa, 25 November 2025.

Selain persoalan kewenangan, ia juga menyoroti proses rapat yang tidak menghadirkan Ketua Umum sebagai pihak yang menjadi objek keputusan.

Menurutnya, absennya pihak terkait menjadikan keputusan itu cacat prosedural dan tidak memiliki dasar yang kuat.

“Keputusan seperti itu cacat prosedur dan batil menurut syariat,” tegasnya.

Di tengah situasi yang semakin menghangat, Kiai Nurul Yakin tetap menawarkan jalan damai. Ia menyebut bahwa islah menjadi pilihan paling maslahat bagi organisasi sebesar NU.

Ketua Umum, lanjutnya, telah menyatakan kesiapan untuk berdialog dan mencari penyelesaian baik-baik demi menjaga persatuan.

“Ketua Umum sudah menyatakan kesediaannya melakukan islah demi menjaga keutuhan organisasi. Jika Rais ‘Aam menolak islah, berarti menghendaki perpecahan di NU,” ujarnya.

Pernyataan ini menjadi sorotan penting di tengah dinamika internal PBNU, terutama karena posisi Rais ‘Aam dan Ketua Umum merupakan dua pilar utama dalam struktur kepemimpinan organisasi. Jalan islah pihaknya nilai sebagai langkah paling rasional untuk meredakan ketegangan dan menjaga stabilitas NU. (*)

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp