Dalam keterangan yang beredar di media massa, personel Brimob Polda Jawa Tengah yang membawa Iko ke RSUP Dr. Kariadi.
Andy mempertanyakan hal itu. Jika benar, maka muncul pertanyaan besar mengenai posisi Iko selama jeda waktu sejak ia mengalami kecelakaan pada dini hari hingga baru dibawa siang hari ke RSUP Dr. Kariadi.
“Benarkah info dari rumah sakit yang membawa korban adalah anggota Brimob? Jika benar, apakah berarti dalam masa jeda tersebut korban berada di bawah penanganan Brimob? Padahal mestinya korban dibawa lebih dini ke rumah sakit pasca kecelakaan,” ujar Andy.
Menurut Andy, dugaan itu menimbulkan skenario lain. Bisa jadi, jika memang tidak ada kecelakaan atau luka berat yang korban alami, justru Iko ditangkap karena diduga terlibat aksi anarki.
Dalam kondisi itu, seharusnya ia diserahkan ke unit penanganan kriminal atau ke Mapolda Jawa Tengah, bukan berada di bawah kendali Brimob.
Ia juga menekankan perlunya transparansi soal kondisi medis Iko.
“Keterangan medis tentang penyebab kematian korban harus dibuka secara transparan dan dianalisis oleh dokter yang independen supaya tidak menimbulkan bias prasangka,” tegasnya.
Andy minta aparat kepolisian jangan perkeruh situasi
Andy menambahkan, keterangan dari korban lain yang kabarnya masih dalam perawayan juga menjadi kunci dalam kasus ini.
“Korban lain yang bersama almarhum dan infonya saat ini masih dalam perawatan, semoga lekas pulih, adalah kunci utama. Maka harus terpastikan aman dan terlindungi,” katanya.
Di sisi lain, Andy mengingatkan aparat agar tidak melakukan langkah yang justru memperkeruh situasi. Ia berharap polisi mampu mengambil kebijakan yang meredakan ketegangan. Misalnya dengan membebaskan pelaku demo yang polisi tangkap, sejauh tidak terbukti melakukan tindak kriminal serius.
“Kondisi saat ini sudah relatif reda. Kiranya penting bagi aparat untuk menekankan pada anggotanya agar tidak melakukan sesuatu yang bisa memanaskan situasi kembali. Syukur kalau malah dapat mengambil kebijakan yang meredakan suasana,” pungkas Andy.





