Gaya Hidup

Kesit Wijanarko Dorong Pemkot Semarang Teliti Ulang Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang

×

Kesit Wijanarko Dorong Pemkot Semarang Teliti Ulang Sejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang

Sebarkan artikel ini
Kesit Wijanarko, kurator pameran "Ketika Api Menyala di Semarang" saat
Kesit Wijanarko, kurator pameran "Ketika Api Menyala di Semarang" saat ditemui di Rumah Pohan Kota Lama Semarang. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

Ia menambahkan, sumber-sumber yang ada di dalam negeri pun masih terbatas dan belum sepenuhnya tervalidasi. Salah satunya buku “Sejarah Pertempuran 5 Hari di Semarang” terbitan Suara Merdeka tahun 1977.

Menurut Kesit, buku itu masih terdominasi oleh narasi tutur atau kesaksian personal, sehingga perlu ada konfirmasi ulang dengan data dan dokumen sejarah lainnya.

“Buku itu penting, tapi sebagian besar masih berdasarkan cerita tutur. Itu perlu dikonfirmasi lagi dengan sumber-sumber primer yang lebih kuat,” jelasnya.

Harapan Melalui Pameran “Ketika Api Menyala di Semarang”

Pameran “Ketika Api Menyala di Semarang” yang dikuratori Kesit digelar untuk menghidupkan kembali kesadaran publik terhadap nilai sejarah pertempuran tersebut. Melalui karya seni visual, arsip, dan dokumentasi sejarah, pameran ini ingin memperlihatkan semangat perlawanan warga Semarang pada masa awal kemerdekaan.

Menurut Kesit, seni menjadi medium efektif untuk membangun kembali ingatan kolektif masyarakat. Terutama generasi muda, terhadap peristiwa heroik yang terjadi di kotanya sendiri.

“Melalui pameran ini, kami ingin mengajak masyarakat melihat kembali sejarahnya sendiri, memahami maknanya, dan merasa memiliki,” ucapnya.

BACA JUGA: Pameran Inovasi Jateng 2025 di Blora, Pelajar Turut Jaga Kebersihan dengan Aksi Pungut Sampah

Kesit berharap agar pemerintah daerah, lembaga arsip, dan akademisi bisa bekerja sama melakukan riset multidisipliner mengenai Pertempuran Lima Hari.

Ia juga menilai penting adanya dukungan dari pihak kampus dan komunitas sejarah lokal untuk menghidupkan kembali semangat kajian sejarah yang akurat dan mudah terakses.

“Harapan terbesarnya, pemerintah kota bisa mengambil langkah nyata. Misalnya dengan membuat risalah resmi, buku panduan sejarah, atau bahkan museum tematik yang bisa mengedukasi publik,” tegasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp