Sementara itu, Ketua PCNU Kota Semarang, Anasom, menyebut kirab budaya merupakan inovasi dalam peringatan haul yang di kemas lebih dekat dengan masyarakat.
“Ini bagian dari rangkaian haul yang sebelumnya berlangsung di Makbarah Bergota. Kami ingin kegiatan ini lebih membumi dan bisa di rasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.
Anasom menilai metode dakwah KH Sholeh Darat yang menggunakan bahasa Jawa menjadi strategi penting dalam membangun kesadaran kebangsaan di masa kolonial.
“Beliau menggunakan pendekatan budaya lokal untuk menyampaikan ajaran. Itu cara yang sangat efektif dan relevan hingga sekarang,” jelasnya.
Selain nilai budaya dan religius, kirab juga berdampak pada pergerakan ekonomi lokal. Pedagang kaki lima, pelaku UMKM, hingga komunitas seni memanfaatkan momentum tersebut untuk berpartisipasi.
“Saya melihat sepanjang rute ramai aktivitas masyarakat, banyak yang berjualan. Ini menunjukkan kegiatan budaya juga menggerakkan ekonomi,” tambah Anasom. (*)
Editor: Elly Amaliyah





