SALATIGA, beritajateng.tv – Di balik kesejukan serta rindangnya pepohonan di lingkungan kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, terdapat sosok Drs. Soenarto Notosoedarmo, M.Sc. alias Eyang Narto (83).
Ia merupakan sosok pria sederhana yang selama 52 tahun telah mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan kekayaan dan keragaman vegetasi di UKSW.
Bermula dari kecintaannya terhadap tanaman sejak 1973, ia melakukan aksi berdampaknya dengan melestarikan lebih dari 150 spesies tanaman.
Langkah besar itu ia mulai dari hal yang cukup sederhana. Yakni, memberi nama berbagai vegetasi di lingkungan kampus UKSW sesuai tata nama Binomial Nomenclature.
BACA JUGA: Apresiasi Sekolah Koperasi Digital UKSW, Menkop Ferry: Kopdes Merah Putih Butuh Dukungan Kampus
Dari gagasan itu kemudian ia melahirkan sebuah gerakan “Kampusku Floraku”, yakni budaya menjadikan lingkungan kampus UKSW sebagai laboratorium alam dan pusat konservasi flora.
Atas dedikasi tersebut, dosen pensiun purna tugas Fakultas Biologi UKSW ini menerima penghargaan dari UKSW sebagai “Insan Talenta Unggul yang Berdedikasi bagi Kampus Hijau”.
Penghargaan itu diberikan kepada Eyang Narto bertepatan dengan momentum Dies Natalis ke-69 UKSW tahun 2025 di balairung kampus, baru-baru ini.
Eyang Narto mengatakan, memberi nama pada pohon di kampus bermanfaat bagi civitas akademika serta masyarakat umum yang berkunjung ke UKSW.
“Itu bisa menjadi media edukasi sekaligus sebagai simbol untuk memberikan kenangan bagi anak cucu,” ujarnya di Salatiga, Kamis, 4 Desember 2025.
Gerakan Kampusku Floraku oleh Eyang Narti
Eyang Narto mengungkap, gerakan “Kampusku Floraku” merupakan sebuah komitmen dan visi untuk memperkaya pengetahuan, melestarikan tanaman, dan menghidupkan budaya cinta lingkungan.
“Kampusku Floraku adalah kata yang sarat makna. Kata ‘Kampus Flora’ sebagai tempat melestarikan kekayaan tanaman. Sedangkan kata ‘Ku’ berarti rasa memiliki,” jelasnya.
UKSW, lanjutnya, terkenal sebagai Kampus Indonesia Mini. Bukan hanya karena keberagaman suku dan budaya mahasiswanya, tetapi juga dari kekayaan floranya.
Keberagaman pohon, rumput, hingga tanaman langka telah ia dokumentasikan, teliti, hingga susun laporannya dalam berbagai karya ilmiah. Semuanya juga terangkum dalam sebuah buku bertajuk Kampusku Floraku.
BACA JUGA: Gibran Ajak UKSW Perkuat Inovasi dan Adaptasi di Dies Natalis ke-69
Semua spesies pohon dan perdu yang kampus inventarisir telah terkelompokkan sekurang-kurangnya dalam 42 famili, dengan familia Arecaceae (palem) memiliki jenis terbanyak.
“Kalau di Indonesia terdapat tidak kurang dari 460 spesies jenis tanaman palem. Maka 0,11 persennya sudah terwakili di lingkungan kampus UKSW,” tuturnya.
Kepada generasi muda, Eyang Narto pun berpesan agar mesti memiliki hubungan nyata dengan tanaman yang ada di sekitar mereka.
“Jangan hanya mengetahui nama tanaman dari internet saja; tapi juga kenali bentuk aslinya, warnanya, hingga karakteristik ilmiahnya. Kehadiran anak muda berperan penting untuk melanjutkan gerakan ini hingga lintas generasi,” ungkapnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





