Scroll Untuk Baca Artikel
Jateng

Komunitas Tionghoa Semarang Refleksi Tragedi 98 Sambil Rujakan Pare, Simbol Pahitnya Masa Lalu

×

Komunitas Tionghoa Semarang Refleksi Tragedi 98 Sambil Rujakan Pare, Simbol Pahitnya Masa Lalu

Sebarkan artikel ini
Tragedi 1998
Perkoempoelan Boen Hian Tong saat meracik rujak pare bunga kecomberang pada peringatan peristiwa Mei 1998 di Gedung Rasa Dharma, Sabtu, 18 Mei 2024 malam. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

“Maksud dari acara ini bukan untuk mencari kebenaran, tapi supaya Mei 1998 jangan sampai dilupakan, dan kita bareng-bareng meracik kebersamaan ini, mengikis kebencian,” katanya.

Lebih jelas, tanpa bermaksud mengecilkan peristiwa 1998, Harjanto mengungkapkan jika peristiwa serupa sering terjadi di berbagai negara, Seperti Rwanda, Uganda, hingga Sri Lanka.

BACA JUGA: Peringati G30S/PKI, Mahasiswa UIN Walisongo Gelar Aksi Refleksi

Menurutnya, peristiwa semacam ini bisa terjadi di mana pun. Persekusi atas nama agama, ras, dan suku terjadi atas dasar perebutan kekuasaan.

“Tapi peristiwa 1998 demikian menyakitkan, tapi sebenarnya jangan sampai yang dipelihara dalam hati adalah dendam dan benci, kalau mengingat sedih enggak masalah, nangis enggak masalah, jangan sampai dendam,” katanya.

Oleh karenanya, ia mengajak orang Tionghoa, khususnya para saksi yang mengalami langsung peristiwa 1998, untuk dapat mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Sehingga, kebersamaan antarwarga negara dapat terajut kembali.

“Saya tidak bisa menyalahkan, tapi di tengah kekacauan selalu ada orang-orang baik. Artinya, orang baik lebih banyak daripada yang jahat, pelaku saat itu korban provokasi,” tandasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan lainnya lewat WhatsApp Channel beritajateng.tv dengan klik tombol berikut:
Gabung ke Saluran

Tinggalkan Balasan