SEMARANG, beritajateng.tv – Konflik kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali memanas. Pengamat politik Hersubeno Arief mengulas perkembangan konflik tersebut melalui video di kanal YouTube-nya, Hersubeno Point, Minggu, 14 Desember 2025.
Hersubeno membuka analisis dengan menyebut konflik PBNU bukan lagi persoalan elite, melainkan sudah menyentuh basis kultural NU.
Perseteruan awal melibatkan klaim kepemimpinan sah antara Yahya Staquf serta kubu rapat pleno. Rapat pleno tersebut menetapkan K.H. Zulfa Mustofa sebagai Penjabat (Pj) Ketua Umum PBNU.
“Awalnya cuma dua kubu, sekarang muncul poros ketiga,” ujar Hersubeno dalam videonya.
Poros baru tersebut memakai nama “Forum Kiai NU Jawa”. Forum ini menyuarakan kekecewaan terhadap konflik yang tak kunjung usai.
Forum Kiai NU Jawa menyampaikan ultimatum keras kepada elite PBNU. Mereka menuntut muktamar luar biasa sebagai solusi konstitusional.
“Kalau jalan musyawarah buntu, ancaman PBNU tandingan muncul,” kata Hersubeno. Menurutnya, ancaman Forum Kiai NU Jawa tersebut mencerminkan keresahan akar rumput NU.
Yahya Staquf tetap mengklaim kepemimpinan sah berdasarkan hasil muktamar serta AD ART NU. Kubu ini menolak keputusan rapat pleno.
Hersubeno mengutip alasan kubu Yahya Staquf terkait kuorum. “Mereka menyebut peserta pleno cuma sekitar 26 persen,” ucapnya.
Soal konflik PBNU, Yahya Staquf: Tak ada mekanisme pemakzulan ketua umum melalui pleno
Kubu Yahya Staquf menilai tidak ada mekanisme pemakzulan ketua umum PBNU melalui pleno. Pergantian kepemimpinan hanya sah melalui muktamar.
Pertemuan kiai sepuh serta muktasyar NU berlangsung pada Pesantren Tebuireng pada 6 Desember 2025 lalu. Forum tersebut meminta penundaan pleno.
Namun, Suriyah PBNU tetap melanjutkan pleno serta menetapkan Zulfa Mustofa. Hersubeno menilai keputusan tersebut bersifat final versi Suriyah.
Sosok Zulfa Mustofa kemudian mengaitkan restu Ma’ruf Amin sebagai legitimasi moral. Pernyataan tersebut langsung menuai bantahan keluarga Ma’ruf Amin.
“Ini menunjukkan konflik narasi semakin tajam,” ujar Hersubeno. Ia menilai klaim restu justru memperkeruh situasi internal.
BACA JUGA: Sempat Menghindar, Sekjen PBNU Gus Ipul Respons Pemakzulan Gus Yahya: Serahkan ke Para Ulama
Sementara itu, Forum Kiai NU Jawa menambah kejutan dengan menyebut penyanyi cum pendakwah Rhoma Irama sebagai pemersatu kultural. Hersubeno menilai langkah ini simbolik.
“Rhoma Irama bukan tokoh struktural, tapi simbol pencarian legitimasi moral,” katanya.
PBNU versi Suriyah menolak wacana kepengurusan tandingan. Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Imron Rosadi Hamid, menegaskan NU punya aturan jelas.
Hersubeno menutup analisis dengan peringatan serius. “NU sekarang berada pada persimpangan berbahaya,” ujarnya.
Ia menegaskan konflik PBNU berdampak luas bagi kehidupan sosial nasional. “NU bukan sekadar ormas, tapi pilar bangsa,” ucap Hersubeno (*)




