Jateng

Konsumen Makin Selektif, Pedagang Semarang Rasakan Dampak Tekanan Ekonomi

×

Konsumen Makin Selektif, Pedagang Semarang Rasakan Dampak Tekanan Ekonomi

Sebarkan artikel ini
pedagang buah semarang
Pedagang buah saat melayani pembeli di kawasan Pleburan Kota Semarang. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat di tengah melemahnya nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp18.000 per dolar AS mulai terlihat dari strategi para pelaku usaha kecil yang memilih menahan harga jual demi mempertahankan pelanggan.

Di sisi lain, keuntungan usaha semakin tergerus akibat kenaikan biaya operasional dan turunnya daya beli konsumen.

Salah satu yang merasakan kondisi tersebut adalah Rusno (56), pedagang buah potong keliling di Kota Semarang yang telah berjualan sejak tahun 1998. Menurutnya, situasi ekonomi saat ini terasa lebih berat dibandingkan masa pandemi Covid-19 maupun krisis moneter 1998.

“Kayaknya seperti parah yang sekarang itu. Sekarang lebih parah,” ujar Rusno saat ditemui di kawasan Peleburan Semarang belum lama ini.

Rusno mengungkapkan sejumlah kebutuhan usahanya mengalami kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir. Salah satu yang paling terasa adalah harga kemasan plastik untuk buah potong.

“Yang plastik yang dulu Rp5.000 sekarang jadi Rp11.000. Jadinya semuanya ikut naik,” katanya.

BACA JUGA: Semarang Banjir Mall dan Hotel, DPMPTSP Catat Investasi Tembus Rp11,14 Triliun di Tengah Gejolak Ekonomi

Meski biaya usaha meningkat, Rusno memilih tidak menaikkan harga jual produknya. Ia khawatir pelanggan tetap yang selama ini menjadi sumber utama pendapatannya akan berkurang.

“Kalau saya jualnya enggak naik. Biar sedikit enggak apa-apa ada untungnya,” ungkapnya.

Keputusan tersebut membuat margin keuntungan semakin tipis. Di saat yang sama, jumlah pembeli juga mengalami penurunan cukup signifikan.
Jika sebelumnya ia mampu menjual hingga 80 mika buah potong per hari, kini penjualannya hanya berkisar 30 hingga 50 mika.

“Dulu terkadang 80, 50. Sekarang paling 30 sampai 40-an saja,” tuturnya.

Rusno juga melihat perubahan pola konsumsi masyarakat dari lamanya waktu berjualan. Jika sebelumnya dagangan sudah habis pada sore hari, kini ia harus berjualan hingga menjelang malam.

“Kalau dulu jam tiga sudah pulang. Sekarang sampai magrib,” katanya.

Selain kemasan, harga berbagai jenis buah yang dijualnya juga mengalami kenaikan.

“Buah-buahan naik semua. Semangka, Pepaya itu naik Rp 3 ribu sampai Rp 5 ribu,” ujarnya.

Konsumen Cenderung Memilih Produk Termurah

Fenomena serupa juga terlihat pada usaha minuman kopi keliling yang Fitra (19) jalankan sejak 2023. Meski mengaku belum merasakan dampak langsung dari pelemahan rupiah, ia melihat adanya perubahan perilaku konsumen dalam berbelanja.

Menurut Fitra, volume penjualan saat ini memang lebih rendah dibanding masa awal usahanya berkembang.

“Dulu setiap hari bawa antara 600 cup. Sekarang sekitar cuma 200 cup,” kata Fitra.

Namun dalam setahun terakhir, penjualan tersebut relatif stabil. Yang berubah justru pilihan konsumen yang semakin mempertimbangkan harga.

“Biasanya yang paling murah. Kopi susu biasa yang Rp8.000 paling banyak dibeli,” ujarnya.

Kondisi ini menunjukkan masyarakat masih melakukan konsumsi, tetapi lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran dan cenderung memilih produk dengan harga yang paling terjangkau.

BACA JUGA: Sembelih 17 Sapi dan 20 Kambing, Kurban PDIP Jateng Sasar Wong Cilik di Tengah Ekonomi Sulit

Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS menjadi perhatian karena berpotensi memicu kenaikan harga berbagai barang, terutama yang memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Di tingkat pelaku usaha mikro, kondisi tersebut mulai terasa melalui naiknya harga kebutuhan pendukung usaha dan melemahnya daya beli masyarakat. Para pedagang berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas ekonomi serta mengendalikan kenaikan harga agar aktivitas usaha kecil tetap berjalan dan konsumsi masyarakat tidak semakin tertekan. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp