Asisten pelatih LavAni, Erwin Rusni, mengakui timnya belum mencapai performa terbaik meski tampil impresif. Ia menyoroti kelemahan pada sektor receive yang masih belum konsisten.
“Kami masih kesulitan menerima servis lawan, terutama dari pemain asing Bhayangkara. Idealnya, setelah receive langsung bisa menyerang efektif dan menghasilkan poin,” ujarnya.
Erwin juga menyinggung faktor cuaca panas di Semarang yang cukup menguras stamina pemain. Menurutnya, kondisi fisik tim belum berada di level maksimal.
Sementara itu, libero LavAni, Irpan, menyebut kemenangan ini menjadi suntikan kepercayaan diri penting jelang Grand Final. “Ini jadi modal besar buat kami. Tapi kami tetap harus fokus dan tidak cepat puas,” katanya.
Di kubu Bhayangkara Presisi, pelatih Reidel Alfonso Gonzalez Toiran memilih melihat kekalahan ini sebagai bagian dari proses. Ia menilai performa timnya masih jauh dari puncak.
“Level permainan kami baru sekitar 60 persen. Masih banyak yang harus dibenahi, terutama komunikasi dan koordinasi di lapangan,” ungkap Toiran.
Rendy Tamamilang juga tetap optimistis. Ia menilai kekalahan ini menjadi bahan evaluasi berharga untuk memperbaiki kesalahan sendiri.
“Kami harus meminimalisasi kesalahan sendiri di laga berikutnya. Ini pelajaran penting sebelum Grand Final,” tegasnya.
Dengan performa impresif dan rekor tak terkalahkan, LavAni kini berdiri di ambang kejayaan. Namun, ujian sesungguhnya masih menanti di partai puncak—di mana konsistensi dan mental juara akan benar-benar di pertaruhkan. (*)
Editor: Elly Amaliyah





