SEMARANG, beritajateng.tv – Sering dituding sebagai penyumbang limbah ternak yang memicu populasi eceng gondok di Danau Rawapening, warga Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, justru melakukan aksi nyata. Melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) Wira Tani Produktif (Wani Pro), mereka menyulap limbah menjadi pupuk kascing (vermikompos) bernilai tinggi.
Langkah ini diambil mengingat Desa Manggihan berada di hulu Sungai Parat, satu dari 14 sungai yang bermuara di Rawapening, di mana 73 persen warganya menggantungkan hidup dari peternakan sapi perah.
BACA JUGA: Berenang di Rawapening, Remaja Asal Bandungan Tewas Tenggelam
Meski baru merintis pada awal 2025, inovasi KUB Wani Pro di Dusun Manggiharjo telah menarik perhatian dunia. Keberhasilan mereka dalam mengelola limbah ternak menjadi rujukan riset bagi lembaga internasional.
“Baru-baru ini, kami menerima delegasi peneliti dari IFAT (Pameran Dagang Dunia Teknologi Lingkungan) asal Amerika Serikat, serta delegasi International Lake Environment Committee Foundation (ILEC) dari Prefektur Shiga, Jepang,” ungkap Kepala Desa Manggihan, Supriyadi, Minggu, 5 April 2026.
Produksi 25 Ton Pupuk Kascing per Bulan
Saat ini, KUB Wani Pro mampu memproduksi 25 ton pupuk kascing per bulan. Produk organik ini tidak hanya menjadi primadona petani lokal di Getasan dan Salatiga, tetapi juga telah merambah pasar nasional hingga ke Papua, Kalimantan, dan Sumatera.
Pupuk kascing dinilai sangat efektif untuk mengembalikan kesuburan tanah karena diproses secara alami menggunakan cacing tanah jenis Lumbricus rubellus.
Anggota KUB Wani Pro, Sudiono (57), menjelaskan tahapan produksi yang memakan waktu sekitar 20 hingga 25 hari.
BACA JUGA: Tambah Wahana Baru Ramah Keluarga, Bukit Cinta Rawapening Siap Sambut Libur Lebaran
Selain pupuk kascing, Pemdes Manggihan juga menggalakkan pemanfaatan biogas dari kotoran ternak untuk kebutuhan rumah tangga. Sinergi ini memperkuat status Desa Manggihan sebagai Kampung Proklim.
“Ini adalah langkah nyata kami untuk menjaga kelestarian Danau Rawapening. Kami ingin membuktikan bahwa peternak bisa menjadi garda terdepan konservasi, bukan penyebab kerusakan,” tegas Supriyadi. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





