“Dengan begitu, mereka tidak sepenuhnya bergantung pada keluarga. Ada yang sudah berhasil menjual karya secara mandiri. Bahkan beberapa perusahaan sudah memesan karya untuk dijadikan merchandise,” ungkap Rina, sapaan akrabnya saat beritajateng.tv temui di Jalan Puspowarno II, Kota Semarang.
Selain melukis, tempat ini juga membuka kelas memasak, public speaking, hingga keterampilan lain yang mempersiapkan anak berkebutuhan khusus menjadi pribadi mandiri. Saat ini ada 45 anak aktif dari total 150 anggota yang terdaftar.
Seni sebagai simbol Kemerdekaan
Bagi Giovanni, kemerdekaan difabel adalah kesempatan untuk diakui setara. “Harapan saya, mereka semakin merdeka. Merdeka berarti bebas berkreasi, bebas mengekspresikan potensi tanpa diskriminasi. Menurut saya, mereka sudah setara dengan kita. Tinggal bagaimana masyarakat melihatnya,” tegasnya.
Rina pun menambahkan, masih ada tantangan besar dalam dunia kerja. Banyak perusahaan yang baru menerima difabel sebatas memenuhi kuota, bukan karena kesadaran akan inklusi.
“Kami berharap pemerintah dan masyarakat bisa membuka ruang yang lebih nyata, agar teman-teman difabel diberi kesempatan berkarier, bukan hanya sekadar formalitas,” ujarnya. (*)
Editor: Farah Nazila





